JIKA kita melihat situasi bangsa saat ini, maka komentar umum adalah, sedang tidak baik-baik saja! Banyak masalah yang multidimensi dalam kehidupan bermasyarakat dan negara.
Lihatlah berbagai tiktok yang megolok-olok pejabat negara, atau juga polisi, atau aparat lainnya, yang berseliweran.
Soal penegakan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, ekonomi dengan efisiensi yang tak jelas dan didemo, ataun kemerosotan ekonomi karena korupsi dan salah urus.
Banyak di antaranya karena perilaku manusia yang salah, yang memperkaya diri sendiri, korupsi, atau perilaku serakah, dan sebagainya.
Apa kaitannya dengan idulfitri?
Makna Idulfitri berarti kembali kepada kondisi suci, murni, dan bersih. Nah, harapannya bangsa ini, pejabat-pejabat yang mengatur negeri ini juga kembali suci.
Mereka mau memperbaiki perilakunya dengan meninggalkan perilaku yang salah dan meluruskan pengabdiannya untuk bangsa.
Perlu Perubahan
Jika dulu boros, inefisiensi, sekarang dan ke depan lebih menghargai semua sumber daya yang ada untuk digunakan sebaiknya.
Sehingga kelak dapat meningkatkan produktivitas bangsa ini, dan menumbuhkan ekonomi lebih tinggi. Jika tadi suka melanggar hukum, segera bertobat, dan menghargai penegakan hukum, rule of law.
Apabila perubahan itu terjadi, insha Allah bangsa ini akan maju dan jauh lebih baik. Tetapi sudah berapa banyak terjadi Idulfitri, namun perubahan belum banyak terjadi. Perubahan baru terbatas secara individual.
Mudah-mudahan perubahan makin cepat dan makin membawa perbaikan pada kita semua, pada negeri yang berharap dapat mewujudkan sebagai bangsa yang gemah ripah loh jinawi.
- Prof Edy Suandi Hamid, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah DIY, disampaikan dalam rangka Hikmah Lebaran, Senin (31/3/2025).





