”Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ini berdampak pada peningkatan permintaan produk pangan fungsional, termasuk produk probiotik. Pangan fungsional adalah produk pangan yang mengandung senyawa bioaktif atau mikrobia menguntungkan dalam jumlah mencukupi untuk memberikan manfaat kesehatan”.
JOGJA, bisnisjogja.id – Salah satu tanda pola hidup masyarakat modern yakni minimnya aktivitas fisik dan tingginya tingkat konsumsi pangan tinggi kalori. Ini cenderung memacu terjadinya sindroma metabolik yang menyebabkan meningkatnya risiko penyakit berkaitan dengan kardiovaskular, stroke dan diabetes melitus.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai jenis pangan fungsional dengan klaim dapat mengurangi prevalensi sindroma metabolik seperti obesitas, hiperlipidemia, dan hiperglikemia.
Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ini berdampak pada peningkatan permintaan produk pangan fungsional, termasuk produk probiotik.
Hal itulah yang mendasari Tim Laboratorium Teknologi Susu dan Telur Departemen Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM dengan pimpinan Prof Widodo mengembangkan pangan fungsional berbasis susu.
”Pangan fungsional adalah produk pangan yang mengandung senyawa bioaktif atau mikrobia menguntungkan dalam jumlah mencukupi untuk memberikan manfaat kesehatan yang diinginkan,” ungkap Widodo, Senin (4/8/2025).
Selain menyediakan asupan nutrisi bagi tubuh, pangan fungsional juga mampu memberikan efek kesehatan karena adanya senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya.

Tim dari Laboratorium Teknologi Susu dan Telur Departemen Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan (Fapet) lainnya, yakni Prof Nurliyani, Endang Wahyuni MBiotech dan Satyaguna Rakhmatulloh MSc.
Turunkan Kolesterol
Widodo memaparkan salah satu probiotik indigenous asli Indonesia yang telah mereka kembangkan yakni Lactobacillus casei strain AP. L. casei strain AP, probiotik yang berasal dari sistem pencernaan bayi yang mengonsumsi air susu ibu (ASI).
Hasil pengujian pra-klinis produk susu fermentasi menggunakan probiotik L. casei strain AP pada tikus diabetik dan uji klinis pada individu obesitas (body mass index = 32,9; n = 29) telah terbukti membantu menurunkan kadar kolesterol darah, sehingga produknya dinamakan Lowkol (low kolesterol).
Sementara itu, untuk memperbaiki mikrobiota saluran pencernaan dan mencegah terjadinya diabetes melitus tipe 2 (DM-2), berbagai macam probiotik telah dikembangkan untuk menjaga kesehatan usus.
Salah satu probiotik yang dikembangkan oleh tim dan telah diujikan mampu mengatasi diabetes pada tikus percobaan adalah Pediococcus acidilactici strain BE yang berasal dari sistem pencernaan bayi Indonesia yang mengkonsumsi ASI.
”Hasil uji pra-klinis pada tikus diabetik menunjukkan bahwa produk susu probiotik Pediococcus acidilactici strain BE mampu menurunkan kadar glukosa darah dan memperbaiki fungsi sel beta pankreas. Produk susu fermentasi menggunakan Pediococcus acidilactici strain BE diberi nama Lowcose atau singkatan dari lower blood glucose,” jelas Widodo.
Produk Lowkol dan Lowcose sudah mendapatkan sertifikat halal dan juga dalam proses pendaftaran merek. Kedua produk juga pernah dipromosikan dalam forum the 6th International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition Indonesia (ILDEX) tanggal 20-22 September 2023 di Indonesia Convention centre (BSD Serpong), dan dipresentasikan dalam puncak acara Dies Fakults Peternakan tanggal 10 November 2023.





