- Tantangan Yogyakarta ke depan bukan lagi pada menarik sebanyak mungkin pengunjung, melainkan pada mengubah lonjakan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
- Sungai-sungai yang melintas Kota Yogyakarta – Winongo, Code, dan Gadjahwong – perlu direposisi sebagai koridor pengalaman kota yang hijau, hidup, dan produktif.
- Yogyakarta 2030 seharusnya tidak lagi diukur dari seberapa padat kerumunan, melainkan dari seberapa besar nilai yang tertinggal.
YOGYAKARTA kembali padat setiap menjelang liburan. Libur Natal dan Tahun Baru 2025-2026 lalu menegaskan daya tarik kota ini memang tetap kuat. Dinas Pariwisata DIY mencatat ada 2.270.228 kunjungan pada periode 20 Desember 2025 – 4 Januari 2026.
Pada saat yang sama, Dinas Perhubungan dan sejumlah UPT memperkirakan hingga tujuh juta pergerakan orang menuju Yogyakarta, sementara kunjungan ke Malioboro diperkirakan mencapai 1–1,5 juta orang.
Setelah liburan Natal dan tahun baru berlalu, denyut pariwisata belum melemah, terbukti dengan okupansi hotel masih bertahan di kisaran 75 persen pada long weekend pertengahan Januari 2026.
Perbedaan angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perbedaan metodologi yang berdampak langsung pada kebijakan. Dinas perhubungan membaca pergerakan sebagai indikator tekanan mobilitas, sementara Dispar mencatat kunjungan terverifikasi pada destinasi.
Angka Malioboro sendiri lebih tepat dipahami sebagai estimasi berbasis observasi. Tanpa penyelarasan definisi dan metrik, perencanaan rawan meleset – dari kesiapan infrastruktur hingga alokasi anggaran publik.
Dari Kuantitas ke Kualitas
Tantangan Yogyakarta ke depan bukan lagi pada menarik sebanyak mungkin pengunjung, melainkan pada mengubah lonjakan tersebut menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Orientasi pariwisata perlu bergeser dari kuantitas menuju kualitas pengalaman, dengan tiga pilar utama, yakni mobilitas cerdas, pengelolaan sampah sirkular, dan revitalisasi sungai sebagai aset pengalaman kota.
Kemacetan di pusat kota menurunkan kualitas pengalaman wisata sekaligus kualitas hidup warga. Solusi yang realistis adalah penguatan sistem park-and-ride di pintu masuk kota, didukung dengan shuttle listrik dan moda micro-mobility yang terintegrasi.
Agar efektif dan efisien, sistem ini harus ditopang dengan data real-time – sensor parkir, kamera lalu lintas, dan aplikasi wisata – yang mengarahkan pengunjung ke rute dan waktu kunjungan optimal.
Dalam jangka menengah, digital twin kota memungkinkan simulasi skenario puncak kunjungan dan perancangan kebijakan berbasis bukti. Hasil konkretnya yakni waktu tempuh berkurang, emisi ditekan, dan pengalaman wisata meningkat.
Mobilitas yang lancar mempercepat arus wisata, tetapi juga memperbesar residu/sampah aktivitasnya. Tanpa pendekatan baru, sampah akan menjadi harga yang harus dibayar dari kenyamanan kota.
Sampah sebagai Sumber Nilai
Sampah kerap diperlakukan sebagai beban pariwisata. Padahal, melalui pendekatan ekonomi sirkular, ia dapat menjadi sumber nilai. Titik pemilahan di destinasi, bank sampah digital, serta kemitraan dengan UMKM daur ulang mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.
Penguatan dilakukan melalui pengolahan skala mikro, sampah organik menjadi kompos, plastik menjadi bahan kerajinan, serta sertifikasi produk ramah lingkungan untuk meningkatkan daya saing suvenir lokal. Dukungan teknologi memungkinkan pengelolaan yang lebih efisien dan terukur. Dalam hal ini kita bisa mencontoh Singapura.
Program kali bersih (prokasih) tidak cukup jika berhenti pada kegiatan insidental. Sungai-sungai yang melintas Kota Yogyakarta – Winongo, Code, dan Gadjahwong – perlu direposisi sebagai koridor pengalaman kota yang hijau, hidup, dan produktif.
Revitalisasi sungai harus memadukan restorasi ekosistem, peningkatan kualitas air, jalur pedestrian hijau, ruang publik, wisata edukasi lingkungan, serta ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Sungai yang bersih dan tertata tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya tarik destinasi, seiring meningkatnya minat wisatawan pada ruang terbuka yang autentik.
Peluang Pengembangan Wisata
Keberhasilan prokasih juga membuka peluang pengembangan homestay berbasis komunitas di sekitar bantaran sungai. Hunian warga yang ditata dengan standar lingkungan dan keselamatan dapat menjadi alternatif akomodasi, memperpanjang lama tinggal, sekaligus memastikan manfaat ekonomi langsung dirasakan masyarakat.
Dengan tata kelola yang jelas, bantaran sungai dapat bertransformasi dari ruang marjinal menjadi etalase baru pariwisata Jogja.
Agar kebijakan presisi, pemerintah memerlukan satu paket data dan informasi yang valid. Penyelarasan metrik dan dashboard kinerja publik – kunjungan, mobilitas, sampah, hingga kualitas air – menjadi fondasi evaluasi kebijakan.
Transformasi ini menuntut pembiayaan inovatif, mulai dari obligasi hijau daerah hingga insentif bagi pelaku wisata berkelanjutan.
Yogyakarta 2030 seharusnya tidak lagi diukur dari seberapa padat kerumunan, melainkan dari seberapa besar nilai yang tertinggal. Kota dengan sungai bersih, mobilitas efisien, dan ekonomi inklusif akan lebih tahan terhadap fluktuasi pariwisata.
Di sinilah pilihan kebijakan diuji, mengejar angka kunjungan, atau memastikan setiap kunjungan benar-benar bermakna bagi kota dan warganya.
- Penulis, Bakti Wibawa, Periset BRIN juga angoota ISEI Yogyakarta.





