MERAPI merupakan salah satu gunung berapi paling aktif yang berada di dua provinsi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada empat kabupaten yang ”memilikinya” yakni Magelang, Klaten dan Boyolali di Jawa Tengah serta Sleman di DIY.
Bagi sebagian orang, gunung tersebut seakan-akan menakutkan ketika memuntahkan lahar. Tetapi bagi banyak orang lain dalam perspektif yang berbeda, melihat Merapi bagaikan inspirasi seni. Keagungannya memancarkan keindahan. Muntahan lahar dan wedhus gembelnya menjadi sumber ”keindahan”.
Di sinilah terlihat lanskap yang memukau, menawarkan nilai estetika visual, puncaknya yang kerucut, siluet kabut pagi, dan semburan asap menjadi elemen visual yang kuat dalam penciptaan karya fotografi. Fotografer dapat merekamnya dalam berbagai kondisi cahaya dan musim, dengan pendekatan estetika formalisme yang mengutamakan komposisi dan keindahan bentuk.
Eksplorasi visual juga dapat lakukan melalui teknik seperti long exposure dan fotografi inframerah, yang mengubah lanskap alami menjadi visual metaforis dan fantastik. Foto-foto ini bukan hanya menampilkan Merapi sebagai objek alam, tetapi juga sebagai simbol spiritual dan energi yang tak dapat dikendalikan.
Seperti dalam karya fotografi Oscar Samaratungga yang bertajuk ”Semilir Lereng Merapi”, sebuah refleksi dari keindahan alam dan suasana yang ikonik di lereng Gunung Merapi.
Karya tersebut pernah dipamerkan dalam Pameran Fotografi Internasional Bara-Api, Museum Haji Widayat di Mungkid, Magelang, selama satu bulan dari 23 Juli hingga 23 Agustus 2022.
Melalui eksplorasi teknik fotografi inframerah dan pendekatan estetika formalisme, Oscar berhasil menciptakan karya visual yang unik dan penuh impresi. Fotografi inframerah terbukti mampu menciptakan transformasi visual pada objek alam yang akrab menjadi tampak asing dan magis.
Sumber Ekonomi
Di sisi lain, Merapi juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat yang berada di kawasan tersebut. Lava pijar yang keluar setiap saat, membara, ketika mengering dan dingin merupakan tambang sumber penghidupan masyarakat.
Bebatuan dan pasir vulkanik dikenal memiliki kualitas tinggi dan menjadi andalan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setiap hari, ratusan truk pengangkut pasir dan batu hilir-mudik membawa mineral yang dapat ditukar dengan pundi-pundi.
Belum lagi mereka yang tidak terlibat secara langsung mulai dari warung penyediakan makanan bagi pekerja tambang, bengkel truk, tambal ban dan lainnya. Perputaran ekonomi sungguh terasa di sana.

Pemandangan truk dan pekerja tambang menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap Merapi. Foto-foto karya Muhammad Fajar Apriyanto memperlihatkan suasana tersebut. Lihat saja karyanya yang juga pernah tampil dalam Pameran Fotografi Internasional Bara-Api, Museum Haji Widayat di Mungkid, Magelang.
Salah satunya, ”The Gift of Merapi” yang menggambarkan aktivitas warga menambang pasir dan bebatuan. Mereka bekerja keras, memeras keringat, memanfaatkan hasil alam untuk pemenuhan kebutuhan keluarga.
Para penambang tradisional dan moderen secara rutin mengambil material tersebut untuk dijual ke berbagai wilayah sebagai bahan bangunan, yang permintaannya selalu tinggi. Kendati demikian, keberlangsungan aktivitas penambangan perlu pengawasan agar tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Dalam keseimbangannya, penambangan pasir Merapi telah memperlihatkan bencana alam bisa menjadi berkah ketika masyarakat dapat memanfaatkan secara berimbang. Ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat menyikapi potensi alam.
Mitigasi Bencana
Kearifan lokal masyarakat kawasan Gunung Merapi tidak hanya ketika menjadikannya inspirasi seni dan sumber ekonomi. Mitigasi bencana pun menjadi salah satu kearifan lokal yang dapat dipadu dengan pemangku kepentingan serta pihak berkepentingan seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Ada beberapa program mitigasi bencana di kawasan Merapi seperti Program Desa Tangguh Bencana (Destana), jalur evakuasi, dan penggunaan radio komunitas merupakan bagian dari strategi mitigasi yang telah menyelamatkan ribuan nyawa.
Foto bertitel ”Menghirup Abu Vulkanik” memperlihatkan pentingnya mitigasi bencana ketika Merapi memuntahkan lahar disertai abu vulkanik yang beterbangan. Selain foto itu, Pamungkas Wahyu Setiyanto sang fotografer juga mengabadikan bentuk lain mitigasi bencana misal papan peringatan, shelter darurat, dan edukasi warga sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Pada karyanya ”Menghirup Abu Vulkanik”, ia menggambar warga menggendong anak melintas di jalan Desa Balerante yang penuh dengan abu vulaknik. Foto ini juga pernah dipajang pada Pameran Fotografi Internasional Bara-Api, Museum Haji Widayat di Mungkid, Magelang tahun 2022 silam.
Balerante, termasuk yang terdekat dengan puncak Gunung Merapi dan menjadi salah satu desa yang terdampak bencana erupsi tahun 2010.
Pamungkas memotret seorang ibu yang tetap melangkah dengan masker seadanya menggendong anak di tengah terpaan abu vulkanik. Fotonya bukan sekadar dokumentasi bencana, melainkan refleksi tentang harapan dan keberlanjutan hidup setelah kehancuran.
Karya ketiga fotografer yang juga pengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut ingin mengungkapkan, Gunung Merapi bukan sekadar objek! Ia adalah entitas yang memengaruhi estetika visual, kehidupan ekonomi, dan kewaspadaan sosial.
Dengan menggabungkan dokumentasi foto dan narasi, mereka ingin mengajak pembaca untuk melihat Merapi tidak hanya sebagai lanskap yang indah, tetapi juga sebagai ruang hidup yang kompleks, yang mengajarkan tentang ketangguhan, adaptasi, dan keselarasan antara manusia dan alam.
- Penulis, Agung PW SSos MIKom, Jurnalis dan Praktisi Mengajar Fotografi Jurnalistik dan Foto Cerita





