Pekan Dewantara 2026, Menggali Spirit Berdikari dan Edukasi

oleh -11 Dilihat
PANITIA: Anak muda dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta sebagai panitia Pekan Dewantara.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Puluhan anak muda yang tergabung dalam komunitas Cakra Dewantara resmi membuka gelaran Pekan Dewantara 2026 di Pendapa Tamansiswa, Yogyakarta, Sabtu (25/3/2026). Mengusung semangat kolaborasi lintas generasi, acara ini bertujuan merelevansikan kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara di era modern, khususnya dari aspek kemandirian ekonomi dan pendidikan.

Suasana pembukaan berlangsung khidmat sekaligus guyub, dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Kepala Museum Dewantara Kirti Griya, Ki Murwanto, serta cucu Ki Hadjar Dewantara, Purbo Wijoyo. Kehadiran para pegiat museum dan alumni Tamansiswa mempertegas dukungan terhadap gerakan intelektual muda.

Ketua Cakra Dewantara, Shintia Putri, menegaskan fokus utama kegiatan mengangkat peran krusial RAy Sutartinah (Nyi Hadjar Dewantara). Menurutnya, Nyi Hadjar bukan sekadar pendamping, melainkan pilar ekonomi dan strategi di balik layar tumbuh kembangnya Tamansiswa.

Beralih ke Perjuangan Pendidikan

”Tema kami adalah Bukan Sekadar Istri, Berdikari Seperti Sutartinah. Peran beliau sangat fundamental, mulai dari kesediaan mendampingi pengasingan di Belanda hingga menjadi penopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai guru saat pemerintah kolonial menghentikan tunjangan hidup bagi Suwardi,” ujar Shintia.

Lebih lanjut, Shintia mencatat bahwa Nyi Hadjar adalah sosok yang mengarahkan Ki Hadjar Dewantara untuk beralih dari jalur politik praktis ke jalur perjuangan pendidikan. Strategi ini terbukti efektif dalam membangun institusi pendidikan mandiri yang tahan banting terhadap tekanan kolonial.

KOLABORASI: Narasumber, wakil Majelis Luhur, para kepala museum, wakil keluarga pahlawan nasional dan panitia.(Foto: istimewa)

Sejarawan Tamansiswa, Priyo Dwiarso, menambahkan dimensi menarik terkait latar belakang profesional Nyi Hadjar selama di Eropa. Pengalaman Nyi Hadjar mengajar di lembaga Frabel de Garten di Belanda disinyalir menjadi inspirasi perubahan metodologi pendidikan dari top-down menjadi bottom-up.

”Nyi Hadjar adalah aristokrat yang sangat memahami kodrat dan kemandirian. Ki Hadjar sendiri mengakui dalam pidato doktor honoris causa di UGM tahun 1956 bahwa tanpa Nyi Hadjar di sampingnya, beliau bukanlah siapa-siapa,” ungkap Priyo Dwiarso dalam sesi talkshow.

Napak Tilas ke Museum

Setelah seremoni pembukaan, peserta diajak melakukan tur napak tilas ke Museum Dewantara Kirti Griya. Museum yang merupakan bangunan cagar budaya nasional ini menyimpan bukti-bukti sejarah perjuangan, termasuk koleksi mesin ketik legendaris dan pakaian penjara milik Ki Hadjar.

Pemandu museum, Agus, menjelaskan seluruh koleksi yang dipamerkan merupakan artefak orisinal. Hal ini menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin mempelajari sejarah pemberdayaan masyarakat melalui literasi dan pendidikan di masa lampau.

Ketua kegiatan, Febry Fajar Mabruroh, menjelaskan, Pekan Dewantara 2026 akan berlangsung hingga 3 Mei mendatang. Rangkaian acara dirancang komprehensif mencakup pameran, workshop, seminar, hingga lomba dolanan anak untuk menghidupkan kembali sistem among.

”Kami mendesain Pekan Dewantara sebagai ruang belajar untuk memerdekakan batin, pikiran, dan tenaga. Harapannya, masyarakat yang hadir bisa membawa pulang nilai-nilai kemerdekaan dan kodrat alam untuk diterapkan dalam kehidupan profesional maupun personal,” jelas Febry.

No More Posts Available.

No more pages to load.