Pemerintah Jangan Diam, Rakyat Menunggu Kebijakan Nyata

oleh -540 Dilihat
Ilustrasi kampus FEB UGM.(Foto: istimewa)

 

Stabilitas sosial dan politik menjadi salah satu tumpuan aspek ekonomi untuk tumbuh. Karena itu, pemerintah memegang peran sangat besar pada persoalan pelik yang sekarang terjadi. Masyarakat menantikan hadirnya kebijakan maupun respons yang mampu mengembalikan kepercayaan publik.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Aksi masyarakat dan mahasiswa yang berlangsung di berbagai kota tentu berdampak pada perekonomian. Dampak itu antara lain menurunnya kepercayaan pasar, dan kekhawatiran dunia internasional pada kondisi Indonesia.

”Melemahnya kepercayaan pasar dan penurunan ekonomi sangat wajar terjadi sebagai imbas dari gelombang aksi,” ujar Ekonom UGM, Denni Puspa Purbasari PhD.

Ia menekankan, stabilitas kondisi sosial dan politik menjadi salah satu tumpuan aspek ekonomi untuk tumbuh.

Menurutnya, gagasan pembangunan memiliki tiga pilar penghubung, yaitu stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.

Erat kaitan ketiganya mengakar pada dasar pembangunan Indonesia yang ditilik masih relevan pada masa sekarang ini.

Ia menjelaskan, dari tingkat kepercayaan pasar terlihat dari data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika melihat pada periode puncak demonstrasi, dari Kamis (28/8/2025) ke Senin (1/9/2025), IHSG turun 2,7 persen atau setara 7.952,09 ke 7.736,07, sama halnya terjadi penurunan sebesar kurang lebih Rp 385–391 triliun.

”Ini merefleksikan confidence pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia menurun, dan sebaliknya risikonya malah dipersepsikan meningkat,” tandas Denni.

Perlu Bertahan

Denni mengungkapkan kondisi sosial dan politik memang menurunkan kepercayaan pasar terhadap dunia usaha di Indonesia, tidak terkecuali.

Risiko tersebut mencakup keseluruhan pasar yang tercermin pada pergerakan IHSG. Namun demikian, tidak semua harga saham anjlok karena ada sektor atau perusahaan tertentu yang memiliki katalis positif pada saat bersamaan.

Di tengah kondisi yang tidak nyaman, pelaku usaha pasti perlu bertahan dan melakukan mitigasi bisnisnya. Pencegahan tersebut lumrah dilakukan perusahaan besar yang cenderung memperhatikan manajemen, network, capital, dan instrumen pengaman seperti asuransi.

Nah, UKM yang bersandar pada penghasilan harian paling sulit. Tutup tiga hari berarti tidak ada penghasilan sama sekali. Itu setara dengan 10 persen omset sebulan.

Kembalikan Kepercayaan

”Kasus penurunan ekonomi seperti ini, khususnya aspek IHSG, bukanlah yang pertama terjadi,” imbuhnya.

Denni mencontohkan peristiwa besar seperti demo 212 yang turut menyentuh ranah politik, ekonomi, sosial, dan budaya, meski intensitasnya berbeda dengan kondisi saat ini. Bahkan pada krisis tahun 1998 yang bersifat multidimensi, ketika IHSG anjlok lebih dari 50 persen.

Ia menegaskan pemerintah memegang peran sangat besar pada persoalan pelik yang sekarang terjadi. Masyarakat menantikan hadirnya kebijakan maupun respons yang mampu mengembalikan kepercayaan publik.

”Semakin pemerintah diam seribu bahasa, semakin menambah pula gejolak bara amarah yang terjadi pada masyarakat,” tandas Denni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.