Pentingnya Wartawan Kembali ke Jati Diri sebagai Penjaga Kebenaran

oleh -24 Dilihat
Ilustrasi pers penyampai kebenaran.(Foto: Freepik)

SURABAYA, bisnisjogja.id – Di tengah derasnya arus disinformasi dan polarisasi, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, mengajak para jurnalis untuk kembali ke jati diri mereka. Wartawan diingatkan untuk menjadi penjaga kebenaran sekaligus pembawa harapan dan perdamaian bagi masyarakat.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Didik, sapaan akrab Uskup Surabaya tersebut saat menerima kunjungan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Wisma Keuskupan Surabaya. Ia menegaskan tugas wartawan bukan sekadar menyampaikan kabar, melainkan memastikan cahaya kebenaran tetap bersinar.

”Jadilah saksi kebenaran yang membawa damai,” ujar Didik.

Menurutnya, kerja jurnalistik tidak boleh berhenti di ruang redaksi, tetapi harus mampu menjadi jembatan komunikasi lintas bangsa serta memperkuat identitas Indonesia di panggung global melalui narasi yang positif.

Pertemuan juga menjadi ajang tindak lanjut atas pencapaian bersejarah, yakni penandatanganan MOU penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh pemerintah Vatikan. Kesepakatan tersebut dilakukan antara Didik dan Prefek Dikasteri Komunikasi Vatikan, Dr Paolo Ruffini, pada Maret lalu.

Kekuatan Saling Mengisi

Didik menekankan, platform media seharusnya tidak menjadi sekat pemisah, melainkan kekuatan yang saling mengisi. Jurnalisme yang berintegritas dan humanis sangat diperlukan untuk merobohkan tembok prasangka dan membangun pemahaman bersama antar kelompok masyarakat.

Lebih lanjut, ia menyebut jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk menjaga nurani publik. Melalui kata-kata yang bertanggung jawab, wartawan diharapkan mampu menyuarakan suara hati masyarakat dan menghadirkan kedamaian di tengah situasi yang kian kompleks.

Senada dengan hal tersebut, Ketua PWKI Asni Ovier DP menyoroti tantangan jurnalis di era digital. Ia menilai peran wartawan semakin krusial sebagai penyaring (gatekeeper) di tengah maraknya informasi hoaks dan berita sepihak di media sosial yang sering kali bersifat tendensius.

Tak Terjebak Media Sosial

Ovier mengingatkan para jurnalis agar tidak terjebak mengikuti gaya media sosial yang mengejar sensasi demi keuntungan pribadi. Sebaliknya, wartawan wajib menyajikan laporan berbasis data valid guna meluruskan informasi yang menyimpang dan menjaga standar moral publik.

Ia juga menyayangkan adanya gejala pembatasan gerak wartawan di beberapa institusi saat ini. Baginya, kebebasan pers yang bertanggung jawab adalah kunci agar masyarakat tetap mendapatkan informasi yang sehat, mencerahkan, dan jauh dari fitnah.

Melalui pertemuan di Surabaya, diharapkan nurani para praktisi media terketuk untuk memegang teguh etika jurnalistik. Jurnalisme yang berpihak pada kebenaran tunggal menjadi benteng terakhir dalam merawat nalar sehat dan persatuan bangsa di masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.