Perkuat Rantai Pasok Global, UGM dan Fuji Oil Inisiasi Budidaya Kakao

oleh -130 Dilihat
KAKAO: Perwakilan Fuji Oil, Ichiro Nakamura menanam bibit kakao.(Foto: dok UGM)

CILACAP, bisnisjogja.id – Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan raksasa industri asal Jepang, Fuji Oil Co., Ltd., untuk mengembangkan komoditas kakao berkelanjutan. Langkah ini ditandai dengan penanaman perdana bibit kakao berkualitas di Desa Jambusari, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Kamis (26/3/2026).

Proyek percontohan ini melibatkan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan Kelompok Petani Hutan Goa Gogor Asri dengan total luasan area mencapai 44 hektare. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat rantai nilai (value chain) kakao nasional melalui pendekatan yang terkoordinasi dan inklusif antara akademisi, industri, serta masyarakat petani.

Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM, Prof Subejo menekankan pentingnya ekosistem yang terintegrasi. Menurutnya, daya saing kakao Indonesia di pasar global sangat bergantung pada sinergi antara pengetahuan ilmiah dan keterlibatan langsung pihak industri.

”Pengembangan kakao berkualitas tinggi membutuhkan pendekatan terpadu yang menghubungkan pengetahuan ilmiah, keterlibatan industri, partisipasi petani, dan dukungan kelembagaan,” ujar Subejo di sela-sela prosesi penanaman simbolis.

Bagi sektor industri, kerja sama ini merupakan langkah mitigasi risiko terhadap ketahanan pasokan bahan baku. Perwakilan Fuji Oil, Ichiro Nakamura, menyebutkan bahwa akses terhadap biji kakao yang diproduksi secara berkelanjutan sangat krusial bagi keberlangsungan industri cokelat global, di mana Indonesia memegang peranan vital sebagai produsen utama di Asia.

Kepastian Pasar Petani Lokal

”Kabupaten Cilacap diberkahi dengan iklim dan kondisi tanah yang dapat menghasilkan biji kakao aromatik yang khas. Melalui kolaborasi ini, kami ingin membantu petani mengatasi tantangan akses teknik budidaya dan praktik fermentasi agar menghasilkan produk standar tinggi,” kata Nakamura.

Dari sisi ekonomi kerakyatan, program ini memberikan kepastian pasar bagi para petani lokal. Kelompok tani mendapatkan akses terhadap bahan tanam (bibit) unggul dan bantuan teknis berkelanjutan, yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan serta stabilitas pendapatan rumah tangga petani di masa depan.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Handewi SP, optimistis wilayahnya akan segera dikenal sebagai daerah penghasil kakao aromatik baru di Jawa Tengah. Ia mengingatkan para petani untuk berkomitmen penuh dalam merawat tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi tersebut.

”Kakao sangat diminati pasar dari berbagai kalangan usia. Kami meminta petani tidak sekadar menanam lalu meninggalkan, tetapi memelihara secara konsisten karena hasilnya akan sangat menyejahterakan jika dikelola dengan serius,” tegas Handewi.

Program ini juga mencakup penguatan pascapanen, termasuk standarisasi proses fermentasi untuk menjaga konsistensi kualitas. Dengan pengelolaan input yang bertanggung jawab, proyek ini ditargetkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui praktik pertanian yang berkelanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.