Penerapan regenerative agriculture berpatokan pada prinsip-prinsip meningkatkan kesuburan tanah melalui aplikasi bahan organik, sistem tumpang sari atau pergiliran tanaman, pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).
JOGJA, bisnisjogja.id – Program pertanian regeneratif (regenerative agriculture) bertujuan mengurangi potensi cemaran tanah dan air melalui praktik pertanian ramah lingkungan. Selain itu, juga mampu meningkatkan pendapatan petani karena produktivitas meningkat.
Kesadaran akan pentingnya pertanian ramah lingkungan mendapat respons dari PT Sarihusada Generasi Mahardhika Plant dan Gita Pertiwi. Mereka memelopori pertanian regeneratif serta penggunaan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah ”sludge”.
”Inisiatif tersebut merupakan bagian dari peta jalan keberlanjutan perusahaan Danone Impact Journey, yang berfokus pada tiga pilar utama yakni kesehatan, lingkungan, serta karyawan dan komunitas,” ungkap peneliti pertanian, Pramudita Kusuma Wardhani, Rabu (13/8/2025).
Penerapan regenerative agriculture menurutnya berpatokan pada prinsip-prinsip meningkatkan kesuburan tanah melalui aplikasi bahan organik, sistem tumpang sari atau pergiliran tanaman, pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).
Caranya, menggunakan pestisida nabati, meningkatkan keanekaragaman hayati, manajemen air, serta pemberdayaan perempuan dan generasi muda.
Kualitas Tanah
Penerapan prinsip tersebut mampu memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan hasil produksi. Di samping itu, agar petani tak lagi bergantung pada sarana produksi dari luar, khususnya pupuk kimia, pestisida, dan benih.
”Potensi limbah dari PT Sarihusada Generasi Mahardhika ternyata bermanfaat sebagai bahan baku pupuk organik, yakni sludge. Limbah padat organik dari proses pengolahan susu, dan arang sekam dapat menjadi pupuk,” papar Pramudita.
Mereka telah melakukan penelitian bersama BSIP Yogyakarta, mulai uji laboratorium, uji efektivitas, dan uji desiminasi untuk menemukan formula pupuk organik berbasis sludge.
Dosis pupuk sludge yang direkomendasikan yakni 1,5 ton per hektare per musim tanam (Ha/MT) untuk padi dan hortikultura. Hasil uji coba menunjukkan dampak positif.
Ketua Gapoktan Kemudo Rukun, Desa Kemudo,Yuwono mengakui dampak positif penggunaan pupuk sludge. Setelah memberikan pupuk sludge pada 10 bedeng cabai sebanyak 225 kg (dosis 1,5 ton/ha), satu bulan kemudian pertumbuhannya lebih cepat dibanding yang tidak menggunakan sludge.
”Daun padi tampak hijau gelap, segar, dan tahan lama. Tanah lebih gembur dan mudah diolah. Biasanya setelah hujan tanah menjadi keras, tapi setelah pakai sludge lebih ringan dan akar tanaman tumbuh lebih kuat,” ujar Yuwono.
Program tersebut telah berkembang di dua desa, Kemudo dan Sanggrahan, mencakup empat kelompok tani, enam Kelompok Wanita Tani (KWT), dan satu Karang Taruna RW, dengan lebih dari 400 penerima manfaat.







