Saatnya Akselerasi Bahan Bakar Nabati

oleh -36 Dilihat
Ilustrasi pengisian BBM pada kendaraan.(Sumber: Freepik)

JOGJA, bisnisjogja.id – Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan ancaman El Nino mulai mengancam stabilitas pasokan energi nasional. Mengingat 20-25 persen kebutuhan minyak tanah Indonesia masih bergantung pada impor dari Timur Tengah, risiko gangguan rantai pasok kini berada di level waspada.

Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof Deendarlianto, memperingatkan ketahanan energi Indonesia saat ini sangat rentan karena hanya mampu bertahan selama 20 hingga 22 hari tanpa pasokan baru. Angka ini dinilai kritis untuk menopang stabilitas nasional.

Kesenjangan antara produksi dan konsumsi menjadi pemicu utama, produksi minyak domestik hanya mencapai 600.000 barel per hari, sementara kebutuhan nasional melonjak hingga 1,5 juta barel per hari. Ketergantungan pada impor pun menjadi beban kronis bagi APBN.

”Jika pasokan terhenti selama lebih dari 22 hari, Indonesia menghadapi risiko kelumpuhan sektor industri, transportasi, dan kelistrikan. Dampak lebih luasnya adalah potensi gejolak sosial akibat kelangkaan energi di masyarakat,” paparnya.

Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah didorong mempercepat implementasi kebijakan B50 (pencampuran 50 persen biodiesel pada solar). Langkah yang dijadwalkan berlaku mulai 1 Juli 2026 ini diharapkan mampu menekan volume impor solar secara signifikan.

Sumber Hayati Lokal

Selain biodiesel, diversifikasi bahan bakar nabati (BBN) lainnya seperti bioetanol dari sorgum dan ketela perlu segera dikomersialisasi sebagai pengganti bensin. Pemanfaatan sumber hayati lokal menjadi kunci kedaulatan energi di tengah fluktuasi harga minyak mentah.

Sektor gas juga menjadi sorotan dengan dorongan pengembangan Dimethyl Ether (DME) guna menggantikan peran LPG. Pengembangan energi alternatif ini dipandang sebagai momentum kebangkitan riset energi di tingkat perguruan tinggi dan industri dalam negeri.

Tantangan kian berat dengan prediksi BMKG terkait kemarau panjang El Nino pada semester kedua 2026. Fenomena ini akan memukul operasional PLTA dan sektor pertanian yang sangat bergantung pada solar untuk pompa air irigasi.

Penggunaan mikroalga dan energi surya diusulkan sebagai substitusi solar di sektor-sektor terdampak iklim. Namun, Deendarlianto mengingatkan bahwa transisi ini memerlukan perencanaan matang melalui pengawalan ketat Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Pemerintah diminta memastikan kebijakan energi nasional tidak hanya berakhir pada ketergantungan impor baru. Industri energi domestik, baik fosil maupun terbarukan, harus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi berputar di dalam negeri secara berkelanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.