JOGJA, bisnisjogja.id – Tantangan utama umat Islam adalah dominasi oligarki dalam perekonomian. Ini mengakibatkan umat lebih sering menjadi konsumen dibandingkan produsen.
Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY, Prof Edy Suandi Hamid mengungkapkan itu pada ceramah tarawih bertajuk ”Ekonomi Umat di Tangan Oligarki: Mengapa Muslim Selalu Jadi Konsumen?”
Ceramah tarawih berlangsung di Masjid Syuhada Yogyakarta dengan peserta sekitar 250 orang terdiri atas mahasiswa, pengusaha, akademisi, dan masyarakat umum.
Edy yang juga Rektor Universitas Widya Mataram juga menyinggung paradoks meningkatnya religiusitas umat Islam Indonesia yang tidak selalu berbanding lurus dengan perbaikan kondisi sosial-ekonomi.
”Secara kasat mata, keberagamaan kita berkembang pesat. Tempat ibadah bertambah, dakwah semakin meluas, bahkan nilai-nilai agama semakin tampak dalam berbagai aspek kehidupan,” ujarnya.
Namun, realitasnya, praktik korupsi, kesenjangan sosial, dan ketidakadilan ekonomi masih menjadi tantangan besar.
Kemandirian Ekonomi
Menurut Edy, masyarakat terlalu terbiasa membeli, bukan memproduksi. Padahal, Islam mengajarkan kemandirian ekonomi, menghindari riba, serta membangun bisnis yang berorientasi pada kesejahteraan bersama, bukan hanya kepentingan segelintir orang.
Ia menyoroti pentingnya membangun sistem ekonomi berbasis nilai-nilai Islam yang mengedepankan keadilan, kesetaraan, dan kepedulian sosial.
Model ekonomi ini, menurutnya, tidak hanya akan memperkuat daya saing umat tetapi juga memberikan dampak sosial yang lebih luas.
”Islam mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas dan aktivitas ekonomi. Dalam sejarah, kita punya banyak contoh tokoh muslim yang sukses secara ekonomi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip agama,” tandasnya.





