JOGJA, bisnisjogja.id – ”Sanitasi merupakan aspek mendasar dalam pembangunan daerah. Tidak hanya terkait dengan kesehatan masyarakat, tetapi juga erat kaitannya dengan produktivitas, pertumbuhan ekonomi, dan daya saing,” tandas Ketua Kadin DIY, GKR Mangkubumi.
Menurutnya, kota yang memiliki sanitasi baik akan lebih menarik bagi investasi, sektor pariwisata, dan meningkatkan kualitas hidup warganya.
Karena itu, pembangunan sanitasi yang berkelanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif dari sektor swasta, akademisi, serta mitra internasional.
Mangkubumi mengungkapkan itu ketika Kadin DIY bersama Pemda DIY, Pijar Foundation, Tahir Foundation, GWSC (Global Water & Sanition Center). Gates Foundation, Asian Institute of Technology (AIT) Thailand dan SMAN 1 Teladan Yogyakarta menggelar diskusi.
Diskusi bertema ”Mengarusutamakan Pembangunan Sanitasi: Peran Pemangku Kepentingan Swasta di DIY”. Kegiatan berlangsung di Aula SMAN 1 Teladan Yogyakarta (Jumat, 31/01/25).
Berbagai Kalangan
Peserta diskusi, Wakil Ketua Kadin DIY, antara lain Robby Kusumaharta, Rahadi Saptata Abra, dan Arif Effendi.
Turut hadir pula perwakilan dari Asian Institute of Technology (AIT) Thailand, yaitu Prof Thammarat Kootattep dan Hendra Gupta, serta perwakilan dari Pijar Foundation, yakni Ageng Sajiwo (Direktur Edukasi) dan Gede Janaka Narayana (Manajer Program).

Kalangan akademisi, hadir Prof Bakti Setiawan (UGM) dan Ngadiya (Kepala SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta). Sejumlah fungsionaris Kadin DIY juga turut hadir, di antaranya Dian Ariani, Tim Apriyanto, Fransisca Diwati, Fajar Ahmad, dan Y Sri Susilo.
Tampak pula Wawan Harmawan yang menjadi Wakil Walikota Kota Yogyakarta terpilih. Ia hadir sebagai salah satu narasumber dalam diskusi.
Beberapa Faktor
Prof Thammarat Kootattep menjelaskan masalah sanitasi erkotaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah urbanisasi.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi di perkotaan juga menuntut ketersediaan infrastruktur yang memadai, termasuk fasilitas sanitasi yang baik dan layak.
”Pembangunan sanitasi yang berkualitas dapat mendorong terciptanya kota atau wilayah yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Beberapa catatan diskusi yakni penyediaan sanitasi yang baik bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga melibatkan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat, dan media massa.
Peran Strategis
Kolaborasi dan sinergi antar pemangku kepentingan (pentahelix) dinilai penting untuk mewujudkan sanitasi yang layak dan berkelanjutan.
Salah satu peran strategis yang dapat dilakukan oleh sektor swasta adalah melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu, inovasi dalam penyediaan sanitasi dapat dilakukan dengan mereplikasi teknologi dan alat-alat yang berhasil diterapkan di beberapa lokasi di Kota Yogyakarta.
Saat ini, telah terdapat lima lokasi sanitasi cerdas yang telah selesai dibangun, SMA Negeri 1 Yogyakarta, Rusunawa Bener, Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi DIY, Taman Pintar Yogyakarta, dan Teras Malioboro.
Keberhasilan pembangunan sanitasi cerdas di lokasi-lokasi tersebut dapat menjadi model bagi pengembangan fasilitas serupa di wilayah lain. Dengan kolaborasi yang kuat semua pihak, kualitas sanitasi DIY dapat terus meningkat.





