Sumur Resapan Atasi Banjir dan Kekeringan

oleh -272 Dilihat
Periset BRIN, Bakti Wibawa.(Foto: istimewa)

 

  • Keberhasilan sumur resapan tidak hanya bergantung pada pembangunan baru, tetapi juga pada revitalisasi dan perawatan yang berkelanjutan.
  • Sumur resapan mampu meningkatkan ketersediaan air tanah secara signifikan, bahkan hingga sekitar 30 persen.
  • Persoalan air bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan kesadaran kolektif.

 

SUMUR resapan di pinggir jalan Kota Yogyakarta bukan sekadar lubang di tanah, melainkan simbol dari solusi cerdas dalam menghadapi persoalan klasik perkotaan: banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau. Di tengah tekanan perubahan iklim dan pesatnya urbanisasi, pendekatan sederhana namun berdampak besar seperti ini justru menjadi kunci keberlanjutan lingkungan perkotaan.

Air hujan yang selama ini terbuang sia-sia ke saluran drainase belum dimanfaatkan secara optimal karena langsung mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Padahal, air tersebut sebenarnya dapat ditahan sementra dan diresapkan terlebih dahulu ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah yang bernilai bagi keberlanjutan lingkungan.

Dengan sistem yang tersebar di berbagai titik kota, ratusan ribu hingga jutaan meter kubik air dapat “ditabung” di dalam tanah setiap musim hujan. Dampaknya signifikan: genangan berkurang, risiko banjir menurun, dan cadangan air tanah meningkat. Data BMKG menunjukkan bahwa pengelolaan air hujan berbasis resapan mampu menekan potensi banjir di wilayah perkotaan.

Keberhasilan Sumur Resapan

Namun, keberhasilan sumur resapan tidak hanya bergantung pada pembangunan baru, tetapi juga pada revitalisasi dan perawatan yang berkelanjutan. Program pembangunan sumur resapan yang pernah digalakkan di kawasan kota Yogyakarta pada masa sebelumnya merupakan langkah maju yang perlu dihidupkan kembali. Banyak sumur yang kini membutuhkan perbaikan agar tetap berfungsi optimal.

Tanpa perawatan yang konsisten, sumur resapan hanya akan menjadi infrastruktur pasif yang kehilangan manfaatnya dan berisiko diabaikan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sumur resapan mampu meningkatkan ketersediaan air tanah secara signifikan, bahkan hingga sekitar 30 persen.

Angka tersebut menegaskan, teknologi sederhana dapat memberikan dampak besar jika diterapkan secara luas dan terintegrasi. Di tengah ancaman krisis air bersih yang kian nyata, pendekatan ini tidak boleh lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai kebutuhan utama dalam perencanaan kota.

Embung Pengendali Air

Selain sumur resapan, keberadaan polder (embung) sebagai sistem penampungan dan pengendalian air juga memegang peranan penting. Polder berfungsi menahan limpasan air permukaan agar tidak langsung membebani saluran drainase dan sungai. Integrasi antara sumur resapan, polder, dan sistem drainase modern akan menciptakan tata kelola air yang lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Langkah lain yang tidak kalah penting adalah penghijauan. Menanam pohon di pekarangan, ruang terbuka hijau, maupun kawasan publik terbukti mampu meningkatkan daya serap tanah terhadap air.

Akar pohon membantu menahan air, mengurangi erosi, serta menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam jangka panjang, pendekatan berbasis alam ini juga berkontribusi terhadap kualitas udara dan kenyamanan hidup warga kota.

Sinyalemen BMKG menunjukkan bahwa pada tahun ini terdapat pengaruh fenomena El Nino yang berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang dan kering. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi Yogyakarta yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dan tekanan terhadap sumber daya air yang semakin besar. Tanpa langkah antisipatif, krisis air bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan yang akan dihadapi.

Revitalisasi Sumur Resapan

Oleh karena itu, revitalisasi sumur resapan, optimalisasi polder, serta penguatan ruang terbuka hijau sudah seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Lebih jauh, diperlukan pula inovasi kebijakan yang mendorong partisipasi masyarakat, seperti kewajiban sumur resapan di bangunan baru atau insentif bagi warga yang menerapkan konservasi air secara mandiri.

Inisiatif dari berbagai pihak juga patut diapresiasi. Keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan sumur resapan menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan lingkungan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat akan mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan air yang tangguh dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, persoalan air bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan kesadaran kolektif. Kota yang mampu bertahan di masa depan adalah kota yang mampu mengelola air secara bijak sejak hari ini. Jika upaya ini diabaikan, Jogja akan terus terjebak dalam siklus banjir dan kekeringan yang berulang setiap tahun.

Jogja tidak pernah kekurangan solusi – yang dibutuhkan adalah konsistensi, keberanian mengambil kebijakan, dan visi jangka panjang. Dengan langkah yang tepat, Jogja bukan hanya mampu mengatasi persoalan air, tetapi juga berpeluang menjadi model kota tangguh air di masa depan.

  • Penulis, Bakti Wibawa, Periset BRIN, juga anggota ISEI yang tinggal di Yogyakarta.

No More Posts Available.

No more pages to load.