,

Tantangan Perekonomian Indonesia

oleh -128 Dilihat
Jonathan Ersten Herawan, SE., CFAP

STAGNANSI pertumbuhan ekonomi dalam satu dekade terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang bergerak di kisaran 5 persen seperti pada Q-2 tahun 2024 yang hanya tumbuh 5,05 persen (BPS RI, 2024). Stagnannya pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga didorong tingginya biaya investasi yang diukur dengan ICOR yang berada pada angka 6,50 persen (BPS RI, 2023).

Tantangan pertama adalah munculnya gejala unsustainable fiscal dimana Pemerintah akan kesulitan membayar pokok dan bunga hutang karena debt service ratio  (DSR) yang sudah mencapai 47,2 persen dibayangi dengan tren menurunnya tax ratio. Apabila gejala ini terus berlanjut, kita akan terjebak debt fatigue (kelelahan hutang).

Permasalahan kedua yang muncul adalah terlihatnya gejala “dutch diseases” dimana pada saat pendapatan perkapita Indonesia masih di kisaran US$4.508 (BPS RI, 2023) kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB dalam tren menurun. Bahkan dalam laporan terbarunya, (World Bank, 2024) mengatakan untuk menyamai seperempat PDB Amerika Serikat Indonesia memerlukan waktu 70 tahun dan China hanya memerlukan 10 tahun.

Ketiga, dalam laporan BPS RI (2024) yakni meningkatnya kontribusi sektor informal dalam perekonomian yang sudah mencapai 59,17 persen bahkan sebanyak 10 juta generasi zoomers merupakan kelompok NEET (Not Employment, Education, and Training). Hal ini dibayangi tren menurunnya angka kelahiran Indonesia sebesar 0,39 dalam satu dekade terakhir (BKKBN, 2024) yang dapat masuk dalam tren depopulasi.

Masalah keempat adalah kemiskinan yang terus meningkat, walaupun dalam laporan terus mengalami penurunan terdapat sudut pandang lain untuk melihat permasalahan ini. Fenomena deflasi yang terjadi selama 3 bulan terakhir merupakan sinyal kuat yang juga terkonfirmasi dalam Mandiri Spending Index (2024) pengeluaran belanja pangan meningkat dari 13,9 persen menjadi 27,4 persen sesuai hukum Engel yang menggambarkan konsumsi pada segmentasi kelas tertentu dapat menggambarkan ketidaksetaraan ekonomi.

Jurang Ketimpangan

Selanjutnya, masalah kelima adalah jurang ketimpangan yang semakin memprihatinkan dimana kelas tabungan besar yakni tabungan diatas Rp5 miliar tumbuh 9,1 persen, tabungan diatas Rp1 miliar tumbuh 19 persen, namun tabungan dibawah Rp100 juta merosot 4,06 persen (LPS RI, 2024). Melihat ketimpangan dari ratio gini sudah kurang relevan karena mengukur ketimpangan dengan pengeluaran bukan pendapatan, karena masifnya pemberian bantuan sosial.

Permasalahan keenam adalah melemahnya nilai tukar rupiah ditengah menurunnya indeks dolar, penerbitan obligasi dan SRBI dengan bunga tinggi harus dilakukan yang akan mencapai titik jenuh. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap 78 persen mata uang dunia juga terjadi pada periode sama dan perlu intervensi khusus karena akan memengaruhi barang import yang menjadi input produksi.

Tantangan ketujuh adalah jatuhnya kelas menengah Indonesia menjadi kelompok miskin. Hasil studi LPEM UI (2024) mengatakan bahwa sebanyak 8,5 juta kelas menengah Indonesia turun kelas menjadi kelompok miskin, hal ini terjadi karena “gagal paham” Pemerintah dalam menyikapi perubahan kebutuhan kelas menengah.

Tren pelemahan daya beli juga menjadi masalah kedelapan dengan pengukuran Indeks Pakaian Dalam Pria ala Alan Greenspan dikatakan ketika keadaan ekonomi sedang baik dan konsumen merasa yakin dengan perekonomian, mereka akan lebih cenderung membeli pakaian dalam baru. Dalam laporan Statista (2024), dilaporkan bahwa pada tahun 2025 penjualan pakaian dalam Indonesia akan menurun sebesar 1,7 persen.

Solusi dari berbagai permasalahan tersebut adalah perlunya mengevaluasi kebijakan pembangunan terutama mengenai investasi yang harus berorientasi pada penambahan lapangan kerja, mempercepat belanja kementerian/lembaga, mengevaluasi kebijakan iuran/kenaikan tarif pajak yang akan memberatkan masyarakat, memberikan program jaminan sosial yang berbasis peningkatan mutu pendidikan; kesehatan; dan peningkatan skill (tidak memberikan umpan, namun kail); meningkatkan program padat karya; dan memperbaiki indikator perekonomian agar terlaksananya data driven decision making.

  • Penulis, Jonathan Ersten Herawan SE CFAP, Junior Analyst PP ISEI , Research Assistant Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY dan Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.