JOGJA, bisnisjogja.id – Judi online sangat massif hadir pada setiap media sosial. Menawarkan kemudahan memperoleh uang secara instan menjadikan anak-anak muda rentan tergoda.
Buktinya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Satryo Soemantri Brodjonegoro mengungkapkan fakta terdapat sekitar 960.000 mahasiswa terjerat praktik judi online.
Di lapangan, bukan hanya mahasiswa, banyak anak-anak muda bahkan remaja juga gemar bermain judi online. Kondisi tersebut tentu sangat memprihatinkan.
Akses Mudah
”Judi bukan fenomena baru, apalagi sekarang bisa online. Kehadiran internet dan teknologi yang berkembang pesat, perjudian kini lebih mudah, semua kalangan bisa mengaksesnya,” ungkap Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi sekaligus Dosen Manajemen FEB UGM, I Wayan Nuka Lantara PhD, Selasa (26/11/2024).
Menurutnya, teknologi memungkinkan permainan dari mana dan kapan saja. Adanya user interface yang menarik dan penggunaan mudah. Begitu pula, metode pembayaran yang fleksibel melalui transfer atau e-wallet.
Ia memaparkan, riset Populix yang berjudul ”Understanding the Impact of Online Gambling Ads Exposure” mencatat sebanyak 63 persen responden sering melihat iklan judi online saat menggunakan internet. Iklan judi online yang massif menjadikan generasi muda lebih rentan terpapar.
Lingkungan dan Pergaulan
”Lingkungan sosial dan pergaulan menjadi salah satu faktor maraknya judi. Sering, judi online berawal sekadar mencoba dengan modal kecil, terutama saat seseorang merasa fear of missing out,” jelasnya.
Sistem algoritma judi online membuat pemain merasa nyaman, dan memberikan kemenangan kecil di awal. Hal ini mendorong mereka untuk terus meningkatkan modal, hingga tanpa sadar terjebak dalam lingkaran kecanduan.
”Banyak pelaku sadar jika peluang melawan bandar sangat kecil. Namun, emosi yang tidak terkendali dan fenomena seperti disposition effect bias membuat mereka terus bermain meski mengalami kerugian,” terangnya.
Bahkan ketika kalah, pelaku mencoba kembali dengan keyakinan bisa memutar balik keadaan hingga kehabisan harta. Akhirnya, pada titik tertentu, perjudian dapat mengubah kepribadian seseorang.





