Arsjad Rasjid: Ketimpangan Perdagangan Tantangan UMKM

oleh -238 Dilihat
Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid.(Foto: istimewa)

 

  • Struktur perdagangan global memang tidak selalu adil. Tetapi pengusaha memang harus terus berusaha.
  • Ketimpangan perdagangan tidak bisa diselesaikan hanya dengan keluhan atau perlindungan jangka pendek.
  • Pendekatan berbasis nilai dapat menjadi pembeda utama bagi pelaku usaha lokal ketika bersaing dengan produk massal.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Ketimpangan perdagangan dan tekanan persaingan akibat derasnya arus produk asing masih menjadi tantangan struktural serius bagi pelaku usaha lokal, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Produk impor kerap lebih unggul dari sisi harga, skala produksi, dan efisiensi, sehingga menyulitkan produk domestik untuk tumbuh dan bertahan di pasar.

Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid, mengakui ketimpangan tersebut merupakan realitas ekonomi global yang tidak dapat dihindari.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi itu tidak boleh menjadi alasan bagi pelaku usaha untuk menyerah atau berhenti berinovasi.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kuliah umum bertajuk ”Membangun Iklim Entrepreneurship untuk Kemajuan Bangsa melalui Dunia Usaha” di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

”Hambatan itu nyata. Struktur perdagangan global memang tidak selalu adil. Tetapi pengusaha memang harus terus berusaha. Kalau berhenti, ya tidak akan ke mana-mana,” ungkap Rasjid.

Ekosistem Matang

Ia menjelaskan, produk asing umumnya masuk ke pasar domestik dengan dukungan ekosistem industri yang matang, efisiensi tinggi, serta skala produksi besar. Karena itu, memahami realitas tersebut justru penting sebagai langkah awal untuk menyusun strategi bertahan, bukan sekadar menyalahkan faktor eksternal.

Menurut Arsjad, ketimpangan perdagangan tidak bisa diselesaikan hanya dengan keluhan atau perlindungan jangka pendek.

Dalam jangka panjang, daya tahan pelaku usaha sangat ditentukan oleh kekuatan internal, terutama kemampuan berinovasi, melakukan diferensiasi produk, dan menawarkan nilai yang jelas kepada konsumen.

Ia menekankan pentingnya nilai sebagai fondasi menjalankan usaha di tengah persaingan yang semakin ketat. Nilai-nilai seperti integritas, kolaborasi, dan penghargaan terhadap keberagaman harus diterapkan secara nyata dalam praktik bisnis sehari-hari.

”Nilai itu harus didefinisikan dan dijalankan. Bukan hanya jargon, tetapi menjadi kompas dalam mengambil keputusan bisnis,” tandasnya.

Pendekatan berbasis nilai, lanjut Arsjad, dapat menjadi pembeda utama bagi pelaku usaha lokal ketika bersaing dengan produk massal. Saat ini, konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas, keunikan, serta aspek etika dan keberlanjutan produk.

Manfaatkan Ruang

Ia juga mendorong mahasiswa dan pelaku usaha muda untuk aktif memanfaatkan ruang-ruang pembelajaran seperti seminar, forum industri, dan dialog dengan pengusaha berpengalaman.

Dari proses tersebut, sering kali muncul perspektif baru yang dapat dikembangkan menjadi inovasi produk maupun model bisnis.

Terkait permodalan yang kerap menjadi hambatan klasik UMKM, Arsjad menilai akses modal sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam menjelaskan ide, potensi, dan kelayakan bisnisnya secara meyakinkan.

”Kalau produknya jelas dan bisa dijelaskan dengan baik, modal itu biasanya akan datang,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini tersedia berbagai skema dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan, institusi negara, hingga sektor swasta yang terbuka bagi usaha dengan rencana pengembangan yang realistis dan terukur.

Arsjad mengajak mahasiswa dan pelaku usaha muda untuk memandang ketimpangan perdagangan sebagai tantangan struktural yang menuntut resiliensi dan kemampuan adaptasi, bukan sebagai alasan untuk bersikap pasif.

No More Posts Available.

No more pages to load.