PELEMAHAN rupiah tidak selalu dapat dibaca sebagai sinyal bahwa mata uang nasional telah undervalued dan akan segera kembali menguat secara alamiah. Dalam situasi global ketika pasar obligasi Amerika Serikat menekan pemerintah besar sekalipun, pelemahan rupiah justru bisa mencerminkan kegagalan membaca risiko, atau dalam bahasa yang lebih telanjang: stupidity kebijakan.

KEBIJAKAN fiskal memainkan peran penting sebagai instrumen pemerintah dalam menjaga stabilitas dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah situasi global yang masih menantang. Dengan dukungan kebijakan fiskal yang dikelola secara optimal, perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan kinerja yang kuat.

PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan ”orang rakyat di desa enggak pake dolar kok”. Pernyataan tersebut disampaikan pada saat memberikan sambutan dalam acara peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur (Sabtu, 16/05/2026). Pernyataan Prabowo tersebut menjadi headline atau viral di banyak media, termasuk media online dan sosial media.

KONDISI perekonomian Indonesia saat ini menunjukkan kombinasi tekanan eksternal dan kelemahan domestik yang tidak bisa lagi dianggap sebagai siklus biasa. Pelemahan IHSG hingga 18,49 persen, depresiasi rupiah yang menembus Rp 17.400 per dolar AS (bahkan lebih tinggi di pasar offshore), serta net foreign sell yang mencapai Rp 32,9 triliun mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.