- Bank Bullion lebih berperan memperdalam pasar keuangan daripada mendorong pertumbuhan ekonomi riil.
- Pemerintah perlu memprioritaskan upaya menjaga kestabilan ekonomi dan cadangan emas.
- Pengembangan Bank Bullion tidak otomatis menempatkan Indonesia sejajar dengan negara pemilik cadangan emas besar.
JOGJA, bisnisjogja.id – Pemerintah berupaya mengembangkan Bank Bullion sebagai terobosan kebijakan ekonomi nasional. Hal itu bisa menjadi potensi memperkuat stabilitas makroekonomi Indonesia.
”Keberadaan Bank Bullion lebih berperan memperdalam pasar keuangan daripada mendorong pertumbuhan ekonomi riil secara langsung,” ungkap Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Wisnu Setiadi Nugroho PhD, Senin (12/1/2026).
Ia menambahkan, Bank Bullion juga berperan menciptakan instrumen likuid berbasis emas, meningkatkan efisiensi transaksi, dan memperkuat sistem keuangan.
Dampak Ekonomi Tidak Langsung
”Dampak ke pertumbuhan ekonomi terjadi secara tidak langsung, terutama melalui stabilitas makroekonomi dan peningkatan kepercayaan investor,” jelasnya.
Cadangan emas yang kuat, lanjutnya, dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar. Instrumen emas berpotensi meningkatkan daya tarik pasar modal.
Hanya saja, tanpa integrasi yang kuat dengan sektor riil, misalnya melalui pembiayaan industri atau UMKM, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan relatif terbatas.
”Selain itu juga ada risiko Bank Bullion akan hanya menguntungkan pelaku pasar besar, tidak ke UMKM,” imbuhnya.
Prioritas Kestabilan Ekonomi
Ekonom lainnya yang juga dari FEB UGM, Diny Ghuzini PhD menyoroti tren harga emas global yang tinggi. Menurutnya, pemerintah perlu memprioritaskan upaya menjaga kestabilan ekonomi dan cadangan emas.
Meskipun perdagangan aktif dapat memberikan keuntungan bagi investor, pemerintah perlu menempatkan stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama.
Ia mengungkapkan, perekonomian negara-negara emerging markets cenderung membaik setelah beralih dari fixed exchange rate regime ke floating exchange rate. Namun demikian, cadangan negara-negara tersebut tidak menunjukkan penurunan.
”Salah satu alasannya karena motivasi untuk berjaga-jaga terhadap kondisi perekonomian, hal ini juga dapat berlaku untuk cadangan emas,” jelas Diny.
Peningkatan Cadangan Emas
Ia juga menjelaskan tren global peningkatan cadangan emas negara-negara berkembang. Data International Financial Statistics (IFS) 2025 menunjukkan adanya peningkatan cadangan tersebut.
Motivasi peningkatan cadangan tersebut karena emas merupakan alternatif instrumen yang aman serta memberikan return yang tinggi. Ketidakpastian situasi global dan risiko geopolitik juga menuntut negara-negara untuk mencari instrumen alternatif.
”Pengembangan Bank Bullion tidak otomatis menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara pemilik cadangan emas besar. Secara absolut, cadangan emas Indonesia relatif terbatas, meskipun termasuk produsen emas dunia,” ujar Diny.





