Data Calon Nasabah Tidak Tersedia, Perlu Solusi Berbasis Artificial Intelligence

oleh -4440 Dilihat
Chief Technology Officer AdaKami, Dr Ming Gu.(Foto: istimewa)

JAKARTA, bisnisjogja.id – Banyak orang yang tidak terjangka perbankan. Akibatnya, tidak ada data yang cukup untuk menilai kelayakan seseorang terkait kondisi keuangannya.

Di sinilah perlunya perpaduan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan big data. Pasalnya, ini dapat menjadi senjata ampuh pelaku industri keuangan untuk menjangkau dan melayani masyarakat underserved.

”Penggunaan AI dan big data dapat menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan kredit (credit gap) dan meningkatkan inklusi keuangan secara nasional,” saran Chief Technology Officer AdaKami, Dr Ming Gu, Jumat (8/11/2024).

Gambaran Jelas

Menurut Ming Gu, melalui pemanfaatan AI dan big data, lembaga keuangan mampu mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai calon nasabah, khususnya yang berasal dari kalangan masyarakat underserved dan underbanked.

”Teknologi tersebut bisa menjawab kebutuhan pemetaan profil konsumen dan manajemen risiko, yang menjadi landasan utama dalam penyediaan layanan keuangan,” jelasnya.

Ia melihat banyak calon peminjam hanya memiliki sedikit rekam jejak kredit formal atau bahkan tidak ada sama sekali. Mereka belum pernah memiliki pinjaman atau mengambil cicilan. Jika data biro kredit tidak tersedia, maka sumber data alternatif dapat untuk menilai kelayakan kredit.

”Untuk melakukan penilaian dan analisis, big data menjadi teknologi tepat. Hal ini merupakan inti dari fintech, terutama pada aspek teknologi,” tandas Ming Gu.

Sumber Data

Ia memaparkan, AdaKami menggunakan sumber data alternatif untuk menganalisis pola dan perilaku guna mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai skor atau profil kredit calon peminjam.

Meskipun terbilang kompleks dibandingkan dengan metode tradisional, proses tersebut memungkinkan AdaKami melayani segmen masyarakat yang lebih luas secara lebih efektif, tanpa terlalu bergantung pada data biro kredit.

Selain untuk analisis pola dan perilaku, teknologi juga berperan mendeteksi fraud yang merupakan bagian penting dalam mitigasi risiko pada industri fintech. Teknologi pencegah fraud mendeteksi upaya penipuan berbasis gambar, seperti manipulasi foto kartu identitas dengan menggunakan AI.

”AdaKami menerapkan langkah-langkah ketat menjaga privasi data guna memastikan bahwa informasi sensitif digunakan secara bertanggung jawab dan aman,” tegas Ming Gu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.