Etanol Biomassa Bisa Gantikan Plastik

oleh -18 Dilihat
Dosen Teknik Kimia UGM, Prof Rochmadi.(Foto: dok UGM)

JOGJA, bisnisjogja.id – Kenaikan harga minyak bumi global mulai menekan industri petrokimia nasional, yang memicu kekhawatiran akan lonjakan harga kemasan plastik. Kondisi ini bakal merembet pada kenaikan harga produk makanan dan minuman di pasar domestik.

Ketergantungan industri plastik Indonesia terhadap minyak bumi sangat tinggi, dengan kebutuhan bahan baku mencapai jutaan ton per tahun. Tantangan serius bagi Tanah Air, mengingat status Indonesia sebagai negara pengimpor neto (net importer) minyak bumi.

Dosen Teknik Kimia UGM, Prof Rochmadi mengungkapkan plastik jenis polyethylene dan polypropylene telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, mulai dari kemasan hingga komponen kendaraan.

”Kebutuhannya memang besar karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain untuk kemasan, juga digunakan di dashboard kendaraan hingga peralatan rumah tangga,” papar Rochmadi.

Rantai Pasok Bahan Baku

Tantangan utama industri saat ini menurutnya terletak pada rantai pasok bahan baku, yakni nafta. Nafta merupakan fraksi minyak bumi yang diolah melalui proses cracking untuk menghasilkan etilena dan propilena sebagai bahan dasar plastik.

Masalahnya, nafta juga merupakan komponen utama pembuat bensin. Hal itu menciptakan perebutan alokasi antara sektor energi dan industri manufaktur. Ada persaingan penggunaan antara kebutuhan energi dan kebutuhan industri petrokimia.

Menanggapi rencana substitusi bahan baku dari nafta ke LPG, Rochmadi menilai hal tersebut secara teknis memungkinkan namun memiliki konsekuensi finansial. Perubahan memerlukan modifikasi pada unit proses dan desain pabrik yang sudah ada.

”Karena desain awal pabrik dibuat untuk nafta, ketika disubstitusi dengan LPG tentu perlu evaluasi ulang. Secara teknis bisa dilakukan, tetapi ada konsekuensi biaya tambahan,” jelas Rochmadi.

Pengembangan Alternatif Biomassa

Kendati bahan baku berubah, ia menjamin kualitas akhir plastik tidak akan menurun. Menurutnya, etilena dan propilena yang dihasilkan dari rute proses manapun akan tetap menghasilkan produk polyethylene dan polypropylene dengan standar yang sama.

Sebagai solusi jangka panjang, Rochmadi mendorong pemerintah untuk melirik pengembangan alternatif dari biomassa. Ia mencontohkan Brasil yang sukses mengembangkan etilena berbasis etanol biomassa berkat ketersediaan sumber daya yang melimpah.

Langkah tersebutdinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang harganya fluktuatif. Ketika harga minyak bumi semakin mahal, kemungkinan teknologi berbasis biomassa akan semakin berkembang.

No More Posts Available.

No more pages to load.