- Kekuasaan global tidak lagi terpusat pada satu hegemon, tetapi terpecah dalam zona-zona pengaruh.
- Dunia setelah invasi AS ke Venezuela bergerak menuju tatanan tripolar.
- Invasi penanda lahirnya dunia fracture, dunia yang terfragmentasi, tidak setara, dan dijaga melalui tekanan koersif.
SERANGAN Amerika Serikat ke Venezuela tidak dapat dibaca hanya sebagai konflik bilateral atau persoalan demokrasi internal sebuah negara.
Peristiwa itu justru menandai pergeseran penting dalam tatanan global, ketika kekuasaan internasional dijalankan melalui fragmentasi wilayah pengaruh, penguasaan sumber daya strategis, serta tekanan ekonomi-politik yang bersifat koersif. Dalam konteks inilah dunia memasuki fase baru, dunia fracture.
Konsep Fracture: Fragmented Power, Resource-Centric Conflict, Authoritative Control, Coercive Policing, Tactical Alliances, Unequal Order, Regionalized World, dan Eroded Multilateralism. Ini menggambarkan wajah tatanan global kontemporer yang semakin keras dan tidak ramah bagi negara berkembang.
Kekuasaan global tidak lagi terpusat pada satu hegemon, tetapi terpecah dalam zona-zona pengaruh. Konflik internasional semakin berpusat pada perebutan sumber daya strategis, sementara kontrol otoritatif ditegakkan melalui sanksi, embargo, dan tekanan finansial.
Aliansi bersifat taktis, fleksibel, dan mudah berubah, sedangkan ketimpangan global dilembagakan sebagai bagian dari stabilitas.
Venezuela Sasaran Tekanan Ekonomi
Dalam dunia seperti ini, multilateralisme mengalami erosi serius. Institusi global kehilangan daya ikat, dan stabilitas internasional tidak lagi dibangun melalui konsensus bersama, melainkan melalui pembagian wilayah pengaruh yang dijaga dengan ancaman serta hukuman ekonomi.
Venezuela menjadi contoh paling nyata dari logika tersebut. Negara dengan cadangan minyak terbesar menjadi sasaran tekanan ekonomi ekstrem.
Fakta tersebut menunjukkan paradoks tatanan global saat ini. Kekayaan sumber daya tidak lagi menjamin kedaulatan, bahkan dapat menjadi pemicu intervensi. Dalam dunia fracture, sumber daya strategis bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen geopolitik.
Menahan Kekuatan Ekonomi Alternatif
Serangan terhadap Venezuela juga harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni upaya Amerika Serikat menahan konsolidasi kekuatan ekonomi alternatif seperti BRICS dan jaringan Global South.
Venezuela memiliki hubungan erat dengan Tiongkok dan Rusia, khususnya dalam sektor energi dan pembiayaan. Dalam arsitektur Global South, Venezuela berpotensi menjadi simpul penting bagi pengembangan sistem ekonomi nonbarat yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada dolar AS serta institusi keuangan internasional dengan dominasi Barat.
Melalui sanksi, pembatasan ekspor minyak, dan pemblokiran aset, AS tidak hanya melemahkan ekonomi Venezuela tetapi juga mengirimkan pesan disipliner kepada dunia. Isinya, keluar dari orbit Barat akan menimbulkan biaya ekonomi dan politik yang besar.
Strategi itu bersifat preventif, bukan hanya pada Venezuela, tetapi kemungkinan menguatnya poros ekonomi Global South yang lebih mandiri dan terkoordinasi.
Menuju Tatatan Tripolar
Dunia setelah Venezuela bergerak menuju tatanan tripolar. Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok berperan sebagai penentu ketertiban regional baru. Amerika Serikat mengonsolidasikan pengaruh di Benua Amerika
Rusia memperkuat kendali di Eurasia dengan merebut Ukraina, sementara Tiongkok memperluas pengaruh geoekonominya di Asia, Afrika, dan Global South, termasuk menguasai Taiwan dan Laut Cina Selatan.
Tripolaritas tidak menciptakan keseimbangan stabil, melainkan koeksistensi penuh ketegangan. Konflik dikelola agar tetap berada di bawah ambang perang terbuka.
Dari perspektif ekonomi internasional, tekanan kepada Venezuela menimbulkan efek berantai. Bagi Tiongkok, penurunan produksi minyak Venezuela mempersempit pasokan energi non-Timur Tengah. Ini mendorong percepatan pembangunan arsitektur keuangan alternatif, termasuk penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan energi.
Bagi Rusia, sanksi justru memperkuat konvergensi kepentingan negara-negara yang berada di bawah tekanan serupa, terutama dalam kerja sama energi dan perdagangan nondolar.
Tantangan Struktural Serius
Bagi negara berkembang dan Emerging Market and Developing Economies (EMDEs), dunia fracture menghadirkan tantangan struktural yang serius. Namun, fragmentasi global juga membuka ruang manuver strategis.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Venezuela adalah pentingnya diversifikasi kemitraan ekonomi dan politik. Ketergantungan tunggal, kepada Barat maupun Timur, meningkatkan kerentanan terhadap tekanan sepihak.
Indonesia perlu membangun kemandirian strategis terbatas, bukan dengan menutup diri dari dunia luar, tetapi dengan memastikan kapasitas minimum di sektor energi, pangan, dan kesehatan.
Di tengah melemahnya multilateralisme, penguatan kerja sama minilateral berbasis kepentingan konkret seperti IMT-GT, IMS-GT, BIMP-EAGA, dan pengembangan SIJORI menjadi instrumen penting untuk menjaga ruang kebijakan nasional.
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dengan demikian merupakan penanda lahirnya dunia fracture, dunia yang terfragmentasi, tidak setara, dan dijaga melalui tekanan koersif.
Presiden Prabowo sebagai foreign policy leader harus memiliki kecermatan strategis agar mampu bertahan, bermanuver, dan menjaga kepentingan nasional di tengah tatanan global yang terus berubah.
- Penulis, Jonathan Ersten Herawan, Analis PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia.





