JOGJA, bisnisjogja.id – Enam organisasi penggerak ekosistem halal di DIY – Halal Club Yogyakarta (HCY), Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia DIY (PPHI), Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) DIY, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY, Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) DIY, dan HIPMI Syariah DIY – secara resmi meluncurkan Program Bersama ”Jajan dan Makan yang Halal dan Thoyyiban”.
Ketua HCY, Dra Mursida Rambe, menyampaikan lahirnya Halal Club Yogyakarta berawal dari kegelisahan GKR Mangkubumi saat mendapat pertanyaan dari masyarakat luar negeri mengenai keberadaan komunitas halal di Yogyakarta.
Meskipun masyarakat Yogyakarta mayoritas terbiasa mengonsumsi makanan halal, fakta lapangan menunjukkan masih adanya konsumsi daging non-halal.
”Makan yang halal jelas menyehatkan lahir batin, tetapi justru masih ada yang memilih sebaliknya. Ini menunjukkan perlunya edukasi lebih masif,” tandas Mursida.
Arief Sulfiantono dari Dinas Pariwisata DIY menegaskan kampanye halal berperan penting dalam mewujudkan Pariwisata Ramah Muslim (PRM) di Yogyakarta.
Ia menekankan bahwa semakin banyak restoran dan rumah makan bersertifikat halal, semakin tinggi kenyamanan wisatawan. Transparansi bagi penjual makanan non-halal pun dinilai perlu demi memberikan kepastian bagi konsumen muslim.
Keterbukaan Informasi
Ketua PPHI DIY, Taufik Ridwan, menekankan urgensi keterbukaan informasi dalam penjualan makanan. Ia mencontohkan kasus bakso berbahan daging babi di Bantul yang diberi spanduk ”tidak halal” oleh MUI sebagai bentuk perlindungan konsumen.
”Penjual makanan nonhalal harus berani menyatakan produknya secara jelas. Transparansi ini bagian dari edukasi dan menghindari kesalahpahaman,” tegasnya.
Sekretaris MES DIY, Dandan Hermawan, menyoroti pentingnya sertifikasi halal bagi pelaku usaha. Ia menilai acara Jogja Halal Festival (JHF) yang digelar dua tahunan menjadi bukti besarnya antusiasme masyarakat terhadap produk halal.
Program sertifikasi halal gratis dari pemerintah juga dinilai sebagai momentum strategis bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing.
”Sertifikat halal bukan penghambat usaha, justru meningkatkan kepercayaan dan membawa efek domino yang positif,” imbuhnya.
Kampanye ”Jajan dan Makan yang Halal dan Thoyyiban” akan masif sebagai gerakan bersama menuju penguatan ekosistem halal, sekaligus mendukung PRM di Yogyakarta. Program ini juga akan menjadi salah satu agenda unggulan menjelang Jogja Halal Festival 2026.







