JOGJA, bisnisjogja.id – Kondisi keuangan dan pasar saham yang terjadi saat ini merupakan gejala yang tidak biasa. Situasi seperti sekarang mengingatkan kembali pada kejadian luar biasa saat krisis finansial global tahun 2008 silam.
Pakar Investasi, Keuangan, dan Perbankan UGM, I Wayan Nuka Lantara PhD mengungkapkan hal itu melihat situasi bursa saham Indonesia yang pernah anjlog beberapa waktu lalu.
”Aksi jual masif akibat kepanikan atau panic selling yang mendominasi pasar menjadi penyebab turunnya IHSG,” ungkap Wayan yang juga Kepala Program Studi Manajemen FEB UGM.
Hal itu terjadi karena turunnya kepercayaan investor terhadap pasar saham di Indonesia. Penjualan saham dilakukan karena terdapat kekhawatiran investor akan harga saham turun lebih ekstrem lagi.
Ia menduga para investor merasa bahwa sudah tidak prospektif lagi memegang saham dan memilih untuk menjual secepat-cepatnya.
Penurunan tajam IHSG menurutnya turut dipengaruhi ketidakpastian kondisi global, terutama setelah diterapkannya kebijakan Tarif Trump yang diumumkan secara sepihak sehingga berpotensi munculnya perang dagang.
Sinyal Negatif
”Dampaknya membawa sinyal negatif dan akan terjadi perubahan besar-besaran. Perang tarif menciptakan kekacauan dalam rantai pasokan global dan berdampak pada pasar keuangan dunia,” papar Wayan.
Penilaiannya, Indonesia terdampak cukup signifikan karena kondisi fundamental ekonomi belum sekuat negara ASEAN lain.
Ada sejumlah isu yang memperburuk ketidakpastian, terutama dari sisi kepercayaan investor. Selain itu, presiden baru dengan kebijakan-kebijakan yang belum dirasakan implementasi dan manfaatnya.
”Yang terjadi adalah sentimen regional global yang sudah negatif terasa lebih parah,” imbuhnya.
Melihat situasi saat ini, Wayan menyarankan masyarakat lebih hati-hati dan bijak mengambil keputusan finansial serta menyiapkan dana darurat.
Investor yang memiliki investasi di pasar modal tidak bertindak buru-buru menarik kembali investasinya, tetapi dapat menunggu dan mengamati pergerakan pasar modal.
”Apabila tetap akan berinvestasi, pilih saham perusahaan yang memiliki kinerja dan prospek yang baik,” tandasnya.





