JOGJA, bisnisjogja.id – Perekonomian DIY diprakirakan tetap kuat dengan berada pada kisaran 4,8 – 5,6 persen pada tahun 2024 dan kisaran 4,7 – 5,5 persen pada tahun 2025 (yoy). Sejalan dengan perekonomian nasional, pertumbuhan ekonomi DIY didorong oleh masih kuatnya permintaan domestik disertai kunjungan wisawatan.
”Namun, demikian terdapat beberapa potensi risiko yang perlu diwaspadai karena memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi DIY,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Ibrahim.
Ia menyampaikan itu pada Forum Diskusi Ekonomi yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY (KPwBI DIY) dengan dukungan ISEI Cabang Yogyakarta, Kadin DIY, Bapperida DIY dan Bank BPD DIY(Selasa, 14/01/25).
Faktor Pendorong
Menurut Ibrahim, ada faktor pendorong dan faktor penahan pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun 2025. Faktor pendorong termaksud adalah, pertama aktivitas domestik yang masih terjaga seiring dengan konsumsi masyarakatyang masih tetap kuat disertai dengan kenaikan UMP 2025 sebesar 6,5 persen.
Kedua, penguatan interkoneksi antarwilayah (Joglo-Semar). Hal ini dapat mempermudah distribusi barang dan jasa ke dan dari DIY. Selain itu, potensi peningkatan wisatwan juga semakin besar.
Ketiga, permintaan ekspor dari negara mitra dagang utama yang meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi.
Faktor Penahan
Selanjutnya faktor penahan yakni, pertama biaya bahan baku dan energi yang diprakirakan masih tinggi seiring dengan ketidakpastian geopolitik. Kedua daya saing investasi DIY yang belum optimal dan masih terpusat pada lapangan usaha tertentu.
Ketiga, potensi risiko kenaikan harga barang dan jasa akibat inflasi dan disrupsi rantai pasok global seiring dengan kebijakan negara mitra dagang utama (Amerika Serikat).
”Sepanjang tahun 2024, DIY mengalami deflasi bulanan sebanyak lima yakni pada bulan Januari, Mei, Juni, Juli, dan September,” ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan menurut disagregasinya, deflasi terutama didorong oleh kelompok volatile food yang mencatatkan tujuh kali deflasi sepanjang tahun 2024 dan administered price yang mengalami deflasi sebanyak empat kali.
Inflasi DIY
Bagaimana dengan outlook Inflasi DIY? Tekanan inflasi DIY tahun 2024 dan 2025 diprakirakan lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2023 dengan prasyarat kecukupan bahan pangan pokok strategis.
Menurut Ibrahim, sinergi kebijakan yang lebih kuat antara pemerintah baik pusat dan daerah, serta Bank Indonesia melalui implementasi GNPIP dan optimalisasi pemanfaatan anggaran pemerintah untuk pengendalian inflasi pangan, diharapkan dapat mengarahkan inflasi dalam sasaran inflasi 2,5±1 persen.
Menurutnya terdapat faktor penahan dan pemicu inflasi DIY pada tahun 2025. Faktor penahan termaksud, pertama diversifikasi alternatif moda transportasi seiring beroperasinya Jalan Tol Jogja – Bawen dan Jogja – Solo – YIA yang ditargetkan selesai pada tahun 2025 sehingga menahan tekanan permintaan angkutan udara lebih tinggi.
Kedua, prakiraan inflasi pangan yang lebih terkendali seiring cuaca yang lebih kondusif (menuju netral di tahun 2025). Ketiga, indikasi daya beli masyarakat terhadap barang sekunder maupun tersier yang lebih rendah sehingga menahan inflasi inti.
Selanjutnya untuk faktor pemicu inflasi DIY 2025 yakni, pertama, berlanjutnya kondisi ketidakpastian global yang berdampak pada tingginya potensi imported inflation. Kedua, penyesuaian harga jual industri barang-barang pokok di mana pada tahun sebelumnya, pelaku usaha masih menahan kenaikan harga. Ketiga, kenaikan harga BBM seiring volatilitas harga minyak dunia dan kondisi defisit APBN berlebih.
Dalam forum diskusi tersebut juga hadir selaku narasumber dan pembahas Santosa Rochmad (Dirut Bank BPD DIY), Imam Budidharma dan Sri Giyanti (Bapperida DIY), Dian Aria Ani dan Y Sri Susilo (Kadin DIY), serta Gumilang AS dan Rudy Badrudin (ISEI Cabang Yogyakarta). Moderator Ronny Sugiantoro (Humas ISEI Cabang Yogyakarta).







