JOGJA, bisnisjogja.id – Pelaku usaha Robby Kusumaharta menilai ketidakstabilan rupiah lebih rawan karena faktor government action. Ini berbeda dengan peristiwa menjelang reformasi 1998 yang cenderung karena faktor ekonomi.
Robby mengungkapkan hal itu menanggapi pelemahan rupiah yang terjadi beberapa waktu terakhir ini.
”Kebijakan pemerintah akan terus disorot oleh masyarakat domestik dan mancanegara,” tandasnya.
Namun demikian, ia menyatakan semua pihak hendaknya tetap optimistis apalagi masih banyak perusahaan besar yang tahun ini terus berinvestasi.
Perusahaan-perusahaan tersebut juga masih melantai di bursa maupun menerbitkan obligasi yang artinya ekonomi masih berputar.
”Kita harus tetap optimistis agar tidak menciptakan sentimen yang tidak kondusif dan dapat memperburuk kondisi,” pinta Robby.
Tantangan Berat
Sementara itu, pelaku usaha lain, Bogat AR menanggapi pelemahan rupiah mengatakan merupakan tantangan yang sangat berat.

”Pelemahan rupiah yang kian dalam merupakan tantangan yang sangat berat tidak hanya bagi dunia usaha tetapi juga bagi masyarakat secara umum yang mengalami penurunan daya beli,” ujar Bogat.
Menurutnya, sebagai negara dengan perekonomian terbuka dan bergantung kepada perdagangan internasional, pelemahan rupiah akan diikuti dengan kenaikan harga barang.
Ia menghawatirkan akan timbul gejolak emosional yang berujung kepada sentimen kumulatif negatif akibat kecemasan kolektif.
”Harus ada upaya-upaya fundamental untuk memperkuat kembali rupiah dalam waktu yang relatif singkat,” tegasnya.





