Koperasi Pondok Pesantren Bisa Jadi Model Atasi Kemiskinan

oleh -318 Dilihat
KOPERASI PESANTREN: Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Abdul Haris menunjukkan buah hasil petani binaan koperasi pesantren.(Foto: istimewa)

 

Koperasi Al-Ittifaq Bandung dapat menjadi best practice model pengembangan koperasi desa/kelurahan Koperasi Merah Putih dan koperasi pesantren lainnya. Dengan begitu, koperasi dapat menjadi motor penggerak perekonomian lokal perdesaan.

 

BANDUNG, bisnisjogja.id – Mengatasi kemiskinan memerlukan kerja sama berbagai pihak. Ada banyak skema untuk mengatasinya, termasuk pengembangan Koperasi Pondok Pesantren.

Bahkan ada yang sudah mempraktikannya, Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Bandung, Jawa Barat. Mereka mengelola pertanian, bekerja sama dengan toko modern untuk pemasarannya.

Melihat hal itu, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) melalui Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Abdul Haris melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq.

Kemenko PM bersama kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah melakukan peninjauan pada lahan pertanian yang dikelola oleh masyarakat desa sekitar Koperasi Al-Ittifaq. Komoditas yang dikelola meliputi sayur dan buah, seperti buah tin, selada, horenjo, jeruk, dan buah-sayur lainnya.

”Kami sangat mengapresiasi Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq yang telah menjalin kerja sama dengan beberapa pihak, antara lain supermarket dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” ungkap Haris.

Produksi Susu

Saat kunjungan kerja, Koperasi Al-Ittifaq juga menjalin kerja sama baru dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan terkait penyediaan produksi susu pasteurisasi serta dengan Kamar Dagang Industri (Kadin) Kabupaten Bandung terkait penyediaan bahan baku 10 SPPG.

”Pesantren telah berhasil mengembangkan koperasi dengan tata kelola yang baik sehingga menjadi model koperasi yang profesional dan transparan, mempunyai jaringan luas, serta mampu menyerap langsung hasil pertanian lokal dari petani,” papar Haris di Aula Pondok Pesantren Al-Ittifaq.

MODEL KOPERASI: Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Bandung, Jawa Barat dapat menjadi model bagi koperasi lainnya.(Foto: istimewa)

Koperasi Al-Ittifaq mempekerjakan 53 pegawai dari masyarakat sekitar. Selain itu, koperasi memiliki anggota yang sebagian besarnya merupakan petani mitra. Mereka dari masyarakat sekitar maupun wilayah lain di Kabupaten Bandung, Cianjur, dan Bandung Barat.

Jumlah petani binaan sebanyak 932 orang. Adapun petani binaan yang rutin memasok bahan baku terdiri atas 270 petani. Mereka menyumbang 95 persen pasokan utama sayur dan buah bagi Koperasi Al-Ittifaq.

Nantinya, sayur dan buah hasil anggota koperasi disalurkan langsung kepada koperasi, SPPG, dan supermarket yang sudah bekerja sama.

Motor Penggerak

Kehadiran Koperasi Al-Ittifaq sebagai lembaga ekonomi desa memberi dampak terhadap peningkatan nilai tukar bagi petani. Adanya kerja sama juga memperluas pemasaran dan kepastian akses pasar bagi petani secara langsung.

Haris berharap Koperasi Al-Ittifaq dapat menjadi best practice model pengembangan koperasi desa/kelurahan Koperasi Merah Putih dan koperasi pesantren lainnya. Dengan begitu, koperasi dapat menjadi motor penggerak perekonomian lokal perdesaan.

”Pengelolaan Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq perlu direplikasi sebagai model pengembangan koperasi desa dan koperasi pesantren lainnya,” tandasnya.

Hal itu sebagai upaya pemberdayaan masyarakat terutama dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya lembaga ekonomi di desa dalam pengentasan kemiskinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.