Masa Depan Generasi Z

oleh -542 Dilihat
Dosen FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Theresia Agung Maryudi Harsiwi.(Foto: istimewa)

 

Dalam obrolan di ruang kerja atau ruang makan keluarga, sering terdengar keluhan tentang anak-anak zaman sekarang. Generasi Z yang sering dicap manja, mudah tersinggung, sulit diatur, bahkan malas bekerja. Tak jarang julukan strawberry generation pun diberikan, menggambarkan generasi yang menarik dari luar tetapi rapuh saat menghadapi tekanan. Benarkah generasi ini rapuh dan enggan berjuang?

 

GENERASI Z tumbuh di dunia berbeda dengan generasi sebelumnya. Corey Seemiller & Meghan Grace (2016) dalam bukunya ”Generation Z Goes to College” menyatakan generasi Z dipengaruhi kemajuan teknologi yang membawa mereka menjadi lebih pragmatis, mandiri, dan adaptif.

Di sinilah generasi Z bersikap realistis menghadapi tantangan dunia, terutama ketidakpastian ekonomi dan sosial. Generasi Z memilih bertahan dengan cara berbeda, tidak sekadar tunduk pada otoritas, tetapi mempertanyakan ”mengapa” di balik setiap aturan atau kebijakan yang diterapkan.

Sikap kritis mempertanyakan aturan dianggap tidak sopan oleh generasi sebelumnya. Padahal mempertanyakan dan mencari alasan logis merupakan pertanda kemampuan berpikir kritis.

Mereka bukan generasi malas, tetapi generasi yang menuntut sesuatu yang bermakna. Loyalitas tanpa tujuan jelas tidak menarik bagi generasi Z, bahkan kadangkala dianggap sebagai bentuk penindasan.

Jean M. Twenge (2017) dalam bukunya ”iGen” menjelaskan generasi Z tumbuh dalam ketidakpastian global, dari krisis finansial, perubahan iklim, sampai perubahan sosial yang cepat.

Generasi Z menghadapi tekanan emosional dan psikologis yang mempengaruhi cara mereka melihat dunia dan berinteraksi dengan orang lain.

Sebagai akibatnya, generasi Z cenderung menghindari situasi berisiko dan lebih fokus pada kesejahteraan mental dan emosional, sehingga lebih hati-hati dalam membuat keputusan hidup termasuk karier dan sosial.

Pendidikan Karakter

Pendekatan yang tepat bagi generasi Z tidak lagi mengandalkan cara lama yang menekankan disiplin tanpa alasan. Ryan & Deci (2017) dalam ”Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness” menggambarkan tiga kebutuhan psikologis dasar (otonomi, kompetensi, dan relasi) yang berperan dalam mempengaruhi kesehatan mental, fisik, serta kualitas hidup.

Generasi Z sangat menghargai otonomi dalam bekerja, yaitu kebebasan mengatur cara kerja sendiri, bukan dikendalikan secara kaku. Saat merasa dihargai kompetensinya maka akan bekerja lebih baik dalam lingkungan yang memberi ruang untuk berkembang.

Di sisi lain, Birdi, et al. (2008) dalam ”The Impact of Human Resource Management on Organizational Performance: A Meta-Analysis of the Research Evidence” menekankan investasi pada pelatihan dan pengembangan sesuai kebutuhan individu dapat memperkuat komitmen dan motivasi kerja.

Dalam konteks tenaga kerja termuda, generasi Z umumnya menghargai organisasi yang menyediakan pembelajaran yang relevan, bukan sekadar rutinitas kerja, tetapi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan di masa depan.

Pendidikan Tinggi

Pembentukan karakter generasi Z yang tangguh tidak hanya disandarkan pada dunia kerja. Dunia pendidikan tinggi harus pula memegang peran dalam mempersiapkan mahasiswanya.

Pendidikan yang hanya mengajarkan konten akademik, terlalu kaku, dan mementingkan nilai akan membunuh rasa ingin tahu.

Perlunya pembelajaran yang menumbuhkan keberanian untuk mencoba, menerima kegagalan sebagai bagian dari proses, dan memberikan ruang diskusi terbuka.

Bukan sekadar jargon kurikulum, namun dapat membentuk mentalitas tahan uji dan kritis, sehingga generasi Z bisa berkata ya atau tidak dengan alasan tepat.

Alangkah bijaksana jika kita tidak terburu-buru menilai generasi Z sebagai strawberry generation. Mungkin mereka bukan generasi lemah, tetapi generasi yang tidak mau dibentuk oleh sistem yang keras tanpa alasan yang jelas.

Kita sering lupa, setiap generasi mempunyai cara sendiri untuk membangun masa depannya.

  • Penulis, Theresia Agung Maryudi Harsiwi, Dosen FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.