Menilik MDKG, Rumah Pergerakan Edukasi dan Ekonomi Kreatif

oleh -27 Dilihat
MUSEUM: Ketua Cakra Dewantara Shintia, cucu Ki Hadjar, Ki Purbo Wijaya, dan pemandu museum Ki Agus di depan Museum Dewantara Kirti Griya Tamansiswa.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Di tengah hiruk-pikuk modernitas Jalan Tamansiswa No 31, berdiri kokoh Museum Dewantara Kirti Griya (MDKG). Bangunan bergaya Indis yang dibangun tahun 1915 ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan aset sejarah yang dulu dibeli seharga 3.000 Gulden pada tahun 1934. Kini bertransformasi menjadi pusat edukasi dan ekonomi kreatif bagi generasi muda.

Pagi itu, suasana perpustakaan MDKG terasa hangat dengan diskusi intensitas tinggi dari komunitas Cakra Dewantara. Sekumpulan anak muda usia 18-25 tahun secara mandiri mengelola potensi sejarah Ki Hadjar Dewantara menjadi konten digital yang relevan bagi pasar milenial dan Gen Z, membuktikan bahwa nilai kebangsaan bisa menjadi “komoditas” intelektual yang menarik.

Pemandu museum, Ki Agus Purwanto, mengungkapkan antusiasme anak muda memberikan napas baru bagi operasional museum. Mereka tidak hanya membantu pelayanan pengunjung, tetapi juga membangun jaringan melalui media sosial dan pelatihan penulisan untuk memastikan gagasan sang Pahlawan Nasional tetap memiliki nilai di era informasi.

Gagasan Ki Hadjar Dewantara

“Puji syukur anak-anak muda itu bersemangat sekali. Mereka dengan sukarela dan mandiri telah berkontribusi, termasuk membantu melayani pengunjung dan memuat konten di website. Harapannya gagasan Ki Hadjar lebih dipahami dan diimplementasikan masyarakat,” ujar Ki Agus Purwanto saat ditemui di lokasi.

Dari sisi sejarah properti, bangunan di atas lahan seluas 5.594 meter persegi tersebut merupakan markas besar perjuangan ekonomi dan pendidikan. Selain menjadi rumah tinggal keluarga Ki Hadjar sejak 1938, tempat ini juga menjadi rahim bagi lahirnya Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY pada 1971 yang kini menaungi 41 museum sebagai motor penggerak wisata sejarah.

KETIK: Mesin ketik alat perjuangan kemerdekaan Ki Hadjar Dewantara. Koleksi MDKG.(Foto: istimewa)

Musem menyimpan koleksi yang tak ternilai harganya bagi studi sosiologi dan ekonomi politik. Di dalamnya terdapat 1.207 koleksi historika dan 2.050 judul buku filologika, termasuk dokumen “Wilde School Ordonantie” tahun 1932 yang menjadi bukti perjuangan melawan monopoli pendidikan kolonial yang merugikan rakyat kecil.

Artikel Pemikiran Kritis

Salah satu koleksi paling ikonik adalah artikel Als Ik Eens Nederlander Was (1913) dan baju penjara Pekalongan (1921). Koleksi menjadi pengingat betapa mahalnya harga sebuah pemikiran kritis pada masa itu, yang mengakibatkan Ki Hadjar harus mengalami pembuangan ke Belanda akibat delik bicara yang dianggap berbahaya.

Namun, di balik kekayaan koleksi tersebut, tantangan besar muncul dari sisi keberlanjutan sumber daya manusia. Pendiri Laboratorium Sariswara, Cak Listyo, menyoroti adanya kesenjangan pengkaderan yang membuat sekolah-sekolah Tamansiswa perlahan kehilangan identitas uniknya di tengah persaingan industri pendidikan formal.

Cak Listyo menegaskan saat ini diperlukan konsolidasi besar-besaran untuk mengembalikan jati diri Tamansiswa. Ia menilai pendidikan tidak boleh hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus menyentuh keindahan jiwa sebagai modal dasar pembangunan karakter manusia yang holistik.

“Ada keterputusan pengkaderan hingga sekolah Tamansiswa dirasakan seperti sekolah biasa. Padahal pendidikan bukan hanya intelektual, tapi keindahan jiwa. Perlu nyali seluruh komponen berkonsolidasi mengembalikan jati diri Tamansiswa,” tegas Cak Listyo.

No More Posts Available.

No more pages to load.