JOGJA, bisnisjogja.id – Olahraga tidak sekadar membuat badan bugar dan sehat. Olahraga juga berdampak ekonomi.
Pemerhati dan dosen olahraga UNY, Dr Rumpis AG mengungkapkan itu dalam seminar bertema ”Tantangan Membangun Kebiasaan Berolahraga pada Anak Penyandang Disabilitas”.
Seminar berlangsung di Hotel Grand Cokro Yogyakarta dengan mengundang para dosen, pemerhati, atlet dan media. Mereka mengikuti secara hybrid, daring dan luring.
”Para penyandang disabilitas yang berprestasi bisa mendapatkan penghasilan dari olahraga. Mereka juga bisa mengikuti berbagai ajang dalam dan luar negeri,” tandas Rumpis.
Kendala Olahraga
Selain berbicara manfaat olahraga bagi penyandang disabilitas, Rumpis juga menyinggung kendala berolahraga. Ia melihat masih ada orangtua merasa malu memiliki anak berkebutuhan khusus.
”Ini kendala besar, masih ada orangtua malu mengakui keberadaan anaknya sehinga cenderung menyembunyikan,” ujarnya.
Padahal, anak-anak tersebut memiliki hak yang sama pada berbagai bidang kehidupan termasuk olahraga. Mereka bisa meraih prestasi pada cabang-cabang olahraga mulai dari kabupaten/kota hingga dunia.
Inklusivitas Olahraga
Asisten Deputi Olahraga Penyandang Disabilitas Kemenpora, Dr Ibnu Hasan pada kesempatan itu mengatakan pentingnya inklusivitas olahraga. Ia minta orang tua, guru, dan lingkungan terdekat terbiasa mengajak penyandang disabilitas berolahraga.
”Tidak boleh lagi ada stigma negatif terhadap para penyandang disabilitas, termasuk kesempatan berolahraga. Mereka mempunyai hak yang sama,” tegas Ibnu.
Ia menegaskan UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaanmemberikan ruang tersendiri bagi
penyandang disabilitas. Pembinaan dan pengembangan olahraga penyandang disabilitas sebagai upaya mewujudkan kesetaraan berolahraga.





