Paus Fransiskus dan Air Mata Umat

oleh -1392 Dilihat
MISA DARING: Umat mengikuti misa akbar Paus Fransiskus secara daring dan dari layar televisi di seluruh gereja termasuk Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta.(Foto: Priyo Wicaksono)

JOGJA, bisnisjogja.id – Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus baru saja meninggalkan Indonesia. Banyak cerita dan air mata menetes mengiringi kehadiran dan kepergian Paus saat meninggalkan Tanah Air.

Air mata umat Katolik yang mengikuti misa secara daring di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta pun tak terasa menetes. Meskipun tidak berdekatan secara fisik, tapi suka cita yang mereka rasakan begitu luar biasa.

”Haru, bahagia, bangga, campur aduk rasanya melihat Bapa Suci bisa hadir di tengah-tengah umat Katolik Indonesia,” tutur Yudhistira sembari menyeka air mata.

Bukan hanya dirinya, banyak peserta misa secara daring tak kuasa menahan lelehan air mata. Rasa itu makin terasa ketika Paus terlihat melambaikan tangan meninggalkan Gelora Bung Karno Jakarta, tempat misa akbar.

Bagi Yudhistira dan teman-temannya yang mengikuti misa, kehadiran Paus bagaikan oase di tengah situasi Indonesia dan juga global yang sedang tidak baik-baik saja. Kehadirannya menjadi penyemangat bagi umat terutama anak-anak muda yang merindukan persaudaraan sejati, bela rasa.

Pesan Paus

Pada misa akbar di GBK, Paus Fransiskus mengungkapkan pesan pada umat. Ia mengatakan perjumpaan dengan Yesus mengundang manusia untuk mendengarkan sabda dan menghidupi sabda.

Mendengar sabda, karena semua hal berasal dari mendengarkan, membuka diri kepadaNya, menyambut anugerah berharga dari persahabatan denganNya. Inilah pentingnya menghidupi sabda yang telah diterima, bukan sekadar menjadi pendengar yang sia-sia dan menipu diri sendiri.

”Kita selalu membutuhkan terang yang datang dari atas untuk menyinari langkah-langkah kita. Kita membutuhkan air kehidupan yang memuaskan dahaga padang gurun jiwa,” tutur Paus.

Manusia juga memerlukan penghiburan yang tidak mengecewakan karena Ia berasal dari surga dan bukan dari hal-hal fana dunia ini. Di tengah kekacauan dan kefanaan kata-kata manusia, ada kebutuhan akan sabda Allah.

Paus mengingatkan, hidup iman berawal ketika menerima Yesus dengan rendah hati di atas perahu kehidupan. Umat harus menyediakan ruang untukNya, dan menempatkan diri dalam mendengarkan sabdaNya.

Jalan Perdamaian

”Saudara dan saudari, dalam menghadapi berbagai tugas hidup sehari-hari, kita kadang-kadang merasa tidak mampu, merasakan beratnya komitmen yang begitu besar yang tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan. Ada kesalahan-kesalahan yang tampaknya menghambat perjalanan hidup kita,” papar Paus.

Namun demikian, ujar Paus, dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, umat diminta tidak tetap menjadi tawanan kegagalan. Ia memberi contoh Santa Teresa dari Kalkuta, yang tanpa lelah, peduli pada orang-orang termiskin dan memajukan perdamaian dan dialog.

”Santa Teresa pernah berkata ketika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, jangan pernah lelah menabur,” tandas Paus.

Cerita tentang Paus tidak akan pernah hilang, bahkan ketika banyak umat yang tidak bisa menyapa secara langsung. Air mata tertumpah bukanlah kesedihan melainkan pembuka untuk berjalan menuju suka cita tanpa akhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.