JOGJA, bisnisjogja.id – Forum Kerjasama Kebun Binatang dan Akuatik (FKKBA) Indonesia menggelar kunjungan kerja rutin ke Gembira Loka Zoo, Kamis (7/5/2026). Kegiatan ini menjadi ajang studi banding sekaligus penguatan koordinasi antar-pengelola lembaga konservasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebanyak 31 lembaga konservasi yang tergabung dalam FKKBA Indonesia mengikuti agenda tahunan tersebut. Selain mempererat jejaring antarlembaga, kunjungan juga difokuskan pada peningkatan standar pengelolaan satwa, edukasi konservasi, dan tata kelola kebun binatang modern.
Ketua FKKBA Indonesia, Junjung, mengatakan kegiatan tersebut memiliki manfaat strategis bagi seluruh anggota forum. Menurutnya, kunjungan lapangan memungkinkan peserta melihat langsung penerapan standar pengelolaan satwa yang dinilai telah memenuhi kualitas internasional.
”Manfaatnya luar biasa bagi FKKBA. Kami melakukan studi banding untuk membicarakan isu satwa dan melihat langsung standar pengelolaan di GL Zoo yang sudah berkelas internasional,” ujar Junjung di sela-sela kegiatan.
Rujukan Lembaga Konservasi
Ia menilai Gembira Loka Zoo telah menjadi salah satu rujukan pengelolaan lembaga konservasi di Indonesia, khususnya dalam aspek edukasi publik dan pelestarian satwa dilindungi. Hasil kunjungan diharapkan dapat diterapkan oleh anggota FKKBA di daerah masing-masing.
”Kami melihat kelebihannya luar biasa, terutama dalam hal edukasi dan pelestarian satwa yang dilindungi. Manajemennya sudah tertata dengan sangat baik,” jelasnya.
Dalam kunjungan tersebut, pihak GL Zoo membuka akses khusus ke area back of house (BOH) yang selama ini tidak dapat diakses pengunjung umum. Para peserta diajak melihat langsung fasilitas pendukung pengelolaan satwa, mulai dari area istirahat hingga dapur nutrisi.

Kurator GL Zoo, Leonardo Nico, menjelaskan keterbukaan tersebut merupakan bagian dari komitmen berbagi pengetahuan dan pengalaman antaranggota FKKBA Indonesia.
”Kami memberikan kunjungan spesial ke dapur nutrisi dan tempat istirahat satwa. Harapannya, kami bisa saling berbagi ilmu agar seluruh anggota FKKBA bisa maju bersama-sama, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan satwa itu sendiri,” papar Nico.
Evaluasi dan Masukan
Meski dinilai menjadi salah satu acuan pengelolaan konservasi, Nico menegaskan GL Zoo tetap terbuka terhadap evaluasi dan masukan dari peserta, termasuk para ahli di bidang akuatik. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas konservasi satwa di Indonesia.
”FKKBA diharapkan menjadi ruang di mana para anggota bisa saling belajar dan berkomunikasi. Tujuannya agar industri pariwisata berbasis lembaga konservasi di Indonesia semakin maju dan memberikan citra positif bagi dunia internasional, khususnya dalam menjaga satwa endemik Indonesia,” ujarnya.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB itu berlangsung interaktif dan dihadiri pimpinan lembaga konservasi dari berbagai daerah, termasuk anggota baru seperti Jember Zoo. Forum tersebut diharapkan mampu memperkuat standar konservasi nasional sekaligus mendukung pengembangan industri wisata berbasis edukasi dan pelestarian satwa.







