Perajin Batik Tak Lagi Khawatir Buang Limbah, IFG Hadirkan Solusi Pengelolaannya

oleh -17 Dilihat
PENGOLAHAN: Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berada di kawasan sentra Nayantaka Batik, Bantul.(Foto: istimewa)

BANTUL, bisnisjogja.id – Limbah industri batik menjadi persoalan tersendiri ketika tidak diolah secara benar. Para perajin berusaha meminimalisir limbah dengan berbagai cara.

Kini, pengolahan bakal semakin maksimal dengan kehadiran Indonesia Financial Group (IFG) bersama anggota holding yang menghadirkan solusi pengelolaan limbah industri batik melalui pembangunan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Instalasi berada di sentra Nayantaka Batik, Bantul, sebagai bagian dari upaya mendorong praktik industri yang berkelanjutan.

”IPAL merupakan sistem pengolahan limbah cair yang dirancang untuk mengurangi kandungan zat pencemar sebelum air dibuang ke lingkungan,” ungkap Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji, Rabu (22/4/2026).

Turunkan Kadar Berbahaya

Ia mengatakan, melalui proses fisika, kimia, dan biologis, IPAL mampu menurunkan kadar bahan berbahaya seperti Total Suspended Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), fenol, serta minyak dan lemak, sehingga air hasil olahan menjadi lebih aman dan memenuhi standar baku mutu lingkungan.

Fasilitas IPAL dari IFG terbukti mampu menekan lebih dari 90 persen kadar pencemar limbah cair batik. Inisiatif tersebut menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan utama industri batik yang selama ini berpotensi menimbulkan pencemaran, sekaligus memperkuat praktik produksi yang lebih bertanggung jawab.

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji menyampaikan program tersebut merupakan wujud komitmen IFG dalam mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam pengembangan sektor riil.

”Kami tidak hanya menghadirkan solusi lingkungan, tetapi juga mendorong peningkatan nilai tambah bagi pelaku usaha batik melalui praktik produksi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Kolaborasi Banyak Pihak

Program tersebut, jelas Denny, terlaksana melalui kolaborasi IFG bersama anggota holding PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Jasa Raharja, PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), serta dukungan Yayasan Inspirasi Anak Bangsa (YIAB) dan pemerintah daerah.

Sinergi mencerminkan peran IFG sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia dalam menciptakan nilai berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.

Dari sisi dampak, keberadaan IPAL tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing UMKM batik melalui pemenuhan standar produksi ramah lingkungan yang semakin menjadi tuntutan pasar.

Ia menegaskan program tersebut turut mendorong perubahan perilaku melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha dalam pengelolaan limbah secara bertanggung jawab.

”Model kolaborasi dapat direplikasi di berbagai sentra batik nasional, sekaligus memperkuat kontribusi IFG dalam menciptakan value creation yang terukur, baik dari aspek lingkungan, sosial, maupun ekonomi, sejalan dengan agenda transformasi industri berkelanjutan di Indonesia,” imbuhnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.