Perkuat Bisnis Hospitality dan MICE di Yogyakarta, SWID Optimistis Dongkrak Pendapatan Berulang

oleh -0 Dilihat
Ilustrasi The Royal Alana Yogyakarta.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) secara resmi memperkuat portofolio bisnis hospitality dan MICE di Yogyakarta melalui dua langkah strategis sekaligus yang dieksekusi pada 27 Agustus 2026.

Momentum penting tersebut ditandai dengan peresmian pembukaan The Royal Alana Yogyakarta, hotel bintang lima terbaru milik Perseroan, serta kegiatan groundbreaking pembangunan ballroom di INNSiDE by Meliá Yogyakarta.

Langkah ekspansi ini dirancang sebagai bagian integral dari strategi jangka panjang SWID untuk memperluas penetrasi pasar sekaligus menciptakan sumber pendapatan berulang (recurring income) yang lebih kokoh.

Manajemen Perseroan menargetkan kedua proyek strategis ini mampu memberikan kontribusi finansial yang berkelanjutan melalui lonjakan aktivitas operasional hotel serta penyelenggaraan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE).

Pertumbuhan Sangat Menjanjikan

Direktur Utama SWID, Bogat Agus Riyono, menegaskan bahwa potensi pasar di Yogyakarta pada sektor pariwisata dan MICE tetap menunjukkan trajektori pertumbuhan yang sangat masif dan menjanjikan.

”Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata dan MICE yang paling diminati di Indonesia setelah Bali. Potensinya sangat besar dan kami melihat peluang tersebut sebagai bagian penting dari pertumbuhan bisnis hospitality SWID,” ungkap Bogat.

Dia menambahkan, fasilitas eksisting The Alana Yogyakarta saat ini telah dilengkapi kapasitas MICE hingga 3.000 pax dengan ketersediaan kamar sebanyak 264 unit yang dikelola secara optimal.

Kehadiran The Royal Alana Yogyakarta dengan tambahan 219 kamar diyakini mampu menangkap kebutuhan akomodasi berskala besar yang lahir dari berbagai agenda MICE secara jauh lebih terintegrasi dan efisien.

Pertumbuhan Kuat di Tengah Persaingan

”Kami memperkirakan revenue gabungan The Alana Yogyakarta dan The Royal Alana dapat meningkat hingga 50% dari revenue existing, sehingga menjadi salah satu sumber recurring income yang penting bagi Perseroan dan modal pertumbuhan berkelanjutan,” imbuh Bogat.

Pengamat ekonomi pariwisata sekaligus Dosen FBE UAJY, Y Sri Susilo, turut menyambut positif langkah korporasi tersebut seraya menilai prospek industri perhotelan bintang di Yogyakarta memiliki fondasi pertumbuhan yang kuat di tengah persaingan ketat.

”Sebagai destinasi wisata dan bisnis terpopuler kedua di Indonesia setelah Bali, Yogyakarta tetap menjadi magnet utama bagi sektor hospitality dan MICE. Beroperasinya The Royal Alana dan pembangunan ballroom INNSiDE by Meliá menjadikan industri perhotelan semakin kompetitif,” papar Susilo.

No More Posts Available.

No more pages to load.