JAKARTA, bisnisjogja.id – Pembangunan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) terus dilakukan. Proyek menggunakan pendekatan aglomerasi untuk memastikan kecukupan pasokan sampah dan keberlanjutan fasilitas energi terbarukan di berbagai wilayah nasional.
Meskipun progresif, implementasi teknologi PSEL di Indonesia menghadapi tantangan besar pada karakteristik sampah domestik. Mayoritas sampah didominasi sampah organik basah, yang secara teknis berlawanan dengan kebutuhan teknologi insinerasi atau pembakaran yang memerlukan tingkat kekeringan tinggi.
Guru Besar Departemen Teknik Kimia FT UGM, Prof Wiratni menjelaskan tingginya kadar air pada sampah dapat menghambat optimalisasi panas. Hal itu berdampak langsung pada penurunan efisiensi energi, di mana volume listrik yang dihasilkan per ton sampah menjadi tidak maksimal.
”Teknologi PSEL berfungsi optimal pada kondisi sampah berkadar air rendah. Keberadaan air akan mengurangi efisiensi utilisasi panas, sehingga jumlah energi listrik per ton sampah akan berkurang,” ujar Wiratni.
Pengeringan Butuh Biaya
Ia menegaskan jika proses pemilahan tidak diperketat sejak awal, fasilitas PSEL harus melakukan modifikasi alur kerja tambahan. Proses pengeringan sampah secara mekanis maupun termal akan menjadi keharusan sebelum sampah masuk ke ruang bakar, yang berdampak pada pembengkakan biaya.
”Jika sampah organik masih mendominasi, perlu pengeringan terlebih dahulu. Hal ini tentu akan menambah biaya investasi alat, biaya operasional, serta meningkatkan kebutuhan konsumsi energi internal proyek,” tegasnya mengenai aspek keekonomian proyek.
Terkait kekhawatiran kurangnya bahan bakar jika masyarakat mulai rajin memilah sampah, ia memberikan perspektif berbeda. Menurutnya, penggunaan sampah kering yang terpilah justru jauh lebih efisien karena mampu menghasilkan energi kWh yang sama dengan volume bahan baku yang lebih sedikit.
Dalam upaya pengoptimalan kinerja PSEL, ia menyarankan integrasi dengan unit pengolahan berbasis komunitas. Program seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) milik Kementerian PUPR harus dijadikan garda terdepan dalam proses pemilahan sampah sebelum dikirim ke pusat energi.
Perubahan Perilaku Masyarakat
”Sampah organik di TPS3R bisa diolah menjadi kompos atau maggot yang bernilai ekonomi. Sementara itu, komponen anorganiknya dikirim ke PSEL sebagai bahan bakar dengan kualitas nilai kalor pembakaran yang tinggi,” tambahnya memberikan solusi teknis.
Wiratni mengingatkan keberhasilan PSEL tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat. Tanpa adanya sense of belonging dari publik, investasi infrastruktur hijau yang mahal ini dikhawatirkan tidak akan memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.
Idealnya, pembangunan fisik PSEL harus berjalan paralel dengan pemetaan sosial di wilayah layanan. Penguatan peran bank sampah dan komunitas lokal menjadi kunci vital untuk mendukung operasional PSEL agar lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan krisis energi serta sampah secara bersamaan.







