JAKARTA, bisnisjogja.id – Di tengah tantangan perubahan iklim, inovasi varietas padi adaptif menjadi kunci penguatan ketahanan pangan dan agrobisnis nasional. Salah satu terobosan utamanya adalah Gamagora 7, varietas padi “amfibi” hasil riset UGM yang mampu tumbuh optimal di lahan sawah maupun lahan tadah hujan.
Melihat potensi ekonominya, Kagama Kalimantan Timur berkolaborasi dengan Pemkab Penajam Paser Utara menggelar uji coba penanaman varietas ini. Langkah strategis tersebut diambil untuk menjawab masalah keterbatasan infrastruktur irigasi yang kerap dihadapi petani lokal.
Inovator Gamagora 7, Prof Taryono, menjelaskan varietas tersebut dirancang untuk mendongkrak produktivitas di lahan marginal. Selain berumur pendek (super genjah), padi ini juga memiliki kandungan gizi yang tinggi.
”Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, dan kaya gizi,” ujarnya.
Dari sisi komersial, Gamagora 7 sangat menjanjikan dengan potensi hasil panen mencapai 9,7 ton gabah kering giling (GKG) per hektar. Meski resmi dilepas sebagai padi sawah, karakteristiknya sangat kuat untuk diandalkan di area tadah hujan.
Butuh Proses Panjang
Namun, hilirisasi produk inovasi itu membutuhkan proses panjang hampir 20 tahun sejak dirakit pada 2008 dan resmi dilepas pada 2023. Guna menguji adaptabilitasnya, varietas telah melewati uji multilokasi di 8 wilayah Indonesia dengan biaya riset yang besar.
Taryono optimistis varietas tersebut mampu mengakselerasi kemandirian pangan nasional mengingat luasnya potensi lahan tadah hujan di Indonesia. Meski begitu, tantangan saat ini adalah keterbatasan stok benih dan kebutuhan pendanaan untuk pengembangan generasi lanjutan.
Ketua Kagama Kaltim, Lalu Faudzul Idhi, menegaska kolaborasi merupakan bentuk nyata hilirisasi riset kampus ke sektor industri pertanian. Kagama berperan sebagai penghubung untuk memastikan inovasi akademis layak secara ekonomi di lapangan.
Tantangan Kompleks
Kaltim sengaja dipilih sebagai lokasi uji coba karena memiliki tantangan agroklimat yang kompleks, seperti cuaca tidak menentu dan tanah miskin hara. Kondisi ekstrem ini menjadi tempat pembuktian ideal bagi daya tahan pangan bentukan UGM tersebut.
Pada fase awal, uji coba dilakukan di lahan seluas 1 hektar yang dibagi dua untuk ekosistem lahan basah dan tadah hujan. Penanaman ini mendapat pendampingan intensif serta didukung oleh program Sekolah Inovasi Desa di Penajam Paser Utara.
Data hasil panen nantinya akan dievaluasi sebelum memperluas skala budidaya ke Kutai Kartanegara dan Kutai Timur. Jika sukses, model kolaborasi akan menjadi cetak biru (blueprint) baru bagi pengembangan agrobisnis dan ketahanan pangan nasional.







