Prof Edy: Pertumbuhan Ekonomi Tidak Perlu Terlalu Tinggi tapi Berkualitas

oleh -749 Dilihat
Ekonom Prof Edy Suandi Hamid.(Foto: istimewa)

 

  • Mengatasi persoalan ekonomi, tidak hanya memandang dari sudut pandang ekonomi tetapi juga dari sudut pandang yang lain, dari berbagai disiplin ilmu. Dengan begitu pandangan lebih terbuka.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Perekonomian tidak hanya di tangan menteri keuangan, ada bidang lain yang sangat berpengaruh yaitu sektor moneter yang ada di tangan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan.

Ekonom Prof Edy Suandi Hamid menyampaikan itu ketika menjadi narasumber dalam forum Diskusi Awal Pekan dengan tema ”Ekonomi Indonesia di Tangan Menteri Keuangan Baru: Harapan, Tantangan, dan Kendala”.

Diskusi gelaran Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita dalam platform daring zoom. Acara dengan host Kang Jana Tea dan dimoderatori Prof Tika Widiastuti dihadiri ratusan audiens. Hadir pula sebagai narasumber Amanah Abdulkadir PhD, Dr Suryani SF Motik, Dr Handi Risza, Misbahuddin Azzuhri PhD, dan Dr M Syarkawi Rauf.

”Menteri Keuangan untuk mengatasi ekonomi, tidak hanya memandang dari sudut pandang ekonomi tetapi juga dari sudut pandang yang lain, dari berbagai disiplin ilmu,” ujar Edy yang juga Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta.

Menurutnya, dengan begitu pandangan lebih terbuka. Ia mengatakan kebijakan menarik dana dari Bank Indonesia bukan kebijakan coba-coba tetapi penuh perhitungan, dengan mendorong sektor riil melalui dana idle milik pemerintah.

Edy mengungkapkan bahwa pada 2024, pemerintah harus menyisihkan Rp 500 triliun untuk membayar utang, dan Rp 800 triliun pada 2025.

”Beban ini jelas akan mengurangi dana untuk sektor penting lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan,” kata mantan Ketua Forum Rektor Indonesia tersebut.

Kelas Menengah

Daya beli kelas menengah menurut Edy menurun, harga-harga naik, pendapatan riil mereka turun. Belum lagi berbagai macam beban pajak, lapangan pekerjaan susah. Data BPS menunjukkan bahwa dari 2019-2024 kelas menengah menurun sebanyak 9,48 juta orang atau 16,5 persen.

”Menurunnya daya beli kelas menengah karena mereka adalah kelompok-kelompok yang kritis. Kalau terus berlanjut, maka dapat menaikkan ketegangan atau suhu politik, karena mereka dapat menggerakkan opini di media sosial,” tegasnya.

Selanjutnya, Edy mengungkapkan bahwa data Sakernas Februari 2025, angka pengangguran umur muda bertahan pada angka 16 persen, sehingga dari 100 penduduk 15 -24 tahun yang merupakan angkatan kerja, 16 orang di antaranya menganggur, dan pengangguran terbuka per Februari 2025 adalah 4,76 persen dari 153,05 juta angkatan kerja atau 7,26 juta orang.

Ia juga menilai transformasi digital saat ini sangat dinamis. Pelaku ekonomi belum sepenuhnya mengikuti dinamika ekonomi digital, sehingga muncul pinjol dan judol yang berdampak pada masyarakat.

”Financial literation sangat rendah, tetapi dalam konteks penggunaan sudah tinggi. Banyak yang menggunakan dana perbankan tetapi tidak sepenuhnya paham,” kata Edy.

Ia mengungkap pula, kontribusi sektor industri pada PDB hanya sekitar 19 persen pada 2023. Menurunnya kontribusi ini berakibat luas, termasuk PHK.

”Bagaimana Menteri Keuangan dengan kebijakan fiskalnya dapat membuat balance of trade account positif. Pertumbuhan ekonomi tidak perlu terlalu tinggi, tetapi berkualitas, dengan pro growth, employment, pro poor, pro employment, and pro equality,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.