MERUPAKAN sebuah kehormatan, untuk dapat turut ”mangayubagya” purnatugas Bapak Hilmar Farid, yang telah menorehkan dedikasi, sebagai Dirjen Kebudayaan periode 2015-2024. Di antara berbagai kiprahnya itu, Yogyakarta, akan mengingat sosok Hilmar Farid sebagai suporter, mentor dan motivator, khususnya dalam upaya penetapan ”The Cosmological Axis of Yogyakarta and It’s Historic Landmarks” sebagai warisan dunia.
Di momentum ini pula, saya beserta masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Bapak Hilmar Farid, atas berbagai dukungan yang diberikan, baik selama masa persiapan pengajuan, dan proses sidang atas nominasi ”The Cosmological Axis of Yogyakarta and It’s Historic Landmarks” atau Sumbu Filosofi, yang puncaknya dilaksanakan dalam agenda ”World Heritage Center” (WHC) ke 45, di Riyadh Saudi Arabia, pada tanggal 18 September 2023 silam.
Tentunya, pasca sertifikasi itu, dukungan dari Bapak Hilmar Farid dalam berbagai pemikiran, ide dan gagasan, diharapkan dapat terus berlanjut, untuk memperkuat eksistensi dan gemilang kiprah Sumbu Filosofi, khususnya dalam perspektif global.
Budaya Visioner
Dalam berbagai kesempatan, saya menyampaikan urgensi membangun budaya yang visioner, melalui konsep Kebudayaan Indonesia Baru. Apabila menarik kesimpulan awal dari ”Term Of Reference” agenda ini, konsep Kebudayaan Indonesia Baru, sejatinya berkelindan dengan ide besar ”arkipelagis”.
Sebuah gagasan, yang merangkai akar tradisi, dengan energi pembaruan untuk masa depan bangsa. Sebuah visi, yang memadukan kearifan lokal dengan dinamika zaman, demi kemaslahatan rakyat Indonesia. Dalam hal ini, hendaknya Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya digunakan sebatas slogan, tetapi sebagai strategi kebudayaan, yang dituangkan ke dalam kebijakan publik.
Sejarah telah memberikan pelajaran, bahwa hidup dalam multikulturalisme, yang penuh toleransi dan saling menghargai, dapat menjadi sumber kemajuan. Di Spanyol, Andalusia adalah simbol kerukunan hidup antara Yahudi, Nasrani dan Islam.
Saat itu, ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang maju, karena semua saling belajar dari kebudayaan yang lain. Sejarah juga menunjukkan, proses integrasi berbagai budaya dan bangsa, adalah keniscayaan dalam sejarah Nusantara.
Dari contoh itu, dapatlah disimpulkan: alangkah besarnya manfaat, jika pluralitas budaya, menjadi serat-serat yang saling memperkuat, sehingga suatu resiprokalitas budaya yang sangat kaya akan tercipta. Lebih dari itu, kita juga akan sanggup melaksanakan rencana-rencana pembangunan, dengan sesedikit mungkin distorsi, saling curiga dan kesalahmengertian.
Dalam benak saya, Kebudayaan Indonesia Baru, adalah pengandaian Indonesia yang maju dan beradab. Indonesia haruslah mampu memakmurkan, memajukan, dan memberi rasa keadilan bagi seluruh rakyatnya, dari generasi ke generasi.
Tentu saja, semua itu harus dikembangkan dari nilai-nilai, yang mengalir di pembuluh darah masyarakat sendiri. Melupakan nilai-nilai budaya etnik dan masyarakat adat, hanya akan menciptakan Indonesia tumbuh tanpa jiwa dan identitas. Yang pada akhirnya, kita tidak akan memperoleh hasil pembangunan kebudayaan yang konstruktif, visioner, antisipatif, progresif, kritis dan berkelanjutan.
Dinamika Global
Di tataran global, dinamika pergeseran pusat perhatian dan kegiatan dunia semakin bergeser ke arah timur. Sebagaimana telah diramalkan oleh Naisbitt dan Aberdene, pusat perkembangan dunia, yang dulunya berada di Mediterania dan Atlantik, kini telah beralih ke Indo-Pasifik.
Sejumlah negara, telah menyiapkan dan melaksanakan strategi menghadapi pergeseran ini, baik secara bilateral maupun multilateral .
Negara-negara di sekitar Samudra Hindia telah tergabung dalam Indian Ocean Rim Association. Tiongkok menginisiasi strategi ”Belt and Road”, sedangkan Jepang meluncurkan strategi ”Free and Open Indo-Pacific”.
Sementara itu, Amerika memiliki program ”Indo-Pacific Strategy”, dan pada saat yang sama Amerika – Jepang – India – Australia bersama-sama membentuk QUAD, yang kini meluas dengan bergabungnya sejumlah negara Eropa.
Pergeseran ini, pada akhirnya, menempatkan Kepulauan Indonesia kembali menjadi persilangan strategis, sebagaimana zaman kejayaan bahari Nusantara beberapa abad silam. Indonesia sendiri, telah berusaha menempatkan diri sebagai Poros Maritim Dunia.
Sehingga menjadi relevan pula, apabila beberapa isu terkini terkait Samudera Hindia, menjadi perbincangan aktual di kalangan negara-negara IORA (The Indian Ocean Rim Association). Dan memang–selaras dengan apa yang disampaikan Mathew dan Ghiasy–bahwa Indonesia patut menaruh perhatian, gayut dengan dengan posisi Indonesia yang memangku Samudera Hindia, yaitu: (i) Blue Economy, (ii) Collaboration and Global Governance, dan (iii) The Maritim Silk Road.
Terkhusus eksistensi Jalur Sutera Maritim, pada masa selama perang dingin, memang Samudera Hindia, tidak pernah menjadi daya tarik kepentingan ekonomi dan politik, bagi negara-negara tertentu, terutama Amerika, Jepang, Cina, dan negara-negara Eropa.
Namun, konstelasi mulai berubah pada awal tahun 2000-an, ketika konflik perairan China Selatan mengemuka, dan Samudera Hindia muncul ke permukaan, sebagai wilayah ekonomi dan politik yang sangat penting . Maka tidaklah berlebihan, ketika Kaplan menyatakan: bahwa Samudera Hindia, merupakan pusat panggung permainan kekuasaan dari negara-negara adidaya, pada abad ke duapuluh satu (centre-stage for power plays) .
Daftar Pustaka:
– John Naisbitt, P. A. (1990). Megatrends 2000: sepuluh arah baru untuk tahun 1990-an. Jakarta: Binarupa Aksara.
– Singh, S. (2022). The Blue Economy in the Indo-Pacific: Prospects and Challenges in the Indian Ocean Region. Bangkok: Friedrich-Ebert- Stiftung.
– Kaplan, R. D. (2009). Center Stage for The Twenty First Century: Power Plays in The Indian Ocean. Foreign Affair, 16-32.
- Gubernur DIY, Hamengku Buwono X. Pidato disampaikan dalam Diskusi Arkipelagis: Refleksi Kebudayaan, Mengiringi Purnatugas Hilmar Farid BA MA PhD (Dirjen Kebudayaan periode 2015-2024)





