Membangkitkan Kembali Wawasan Nusantara Bahari

oleh -545 Dilihat
REFLEKSI KEBUDAYAAN: Gubernur DIY Hamengku Buwono X bersama Dirjen Kebudayaan (2015-2024) Hilmar Farid dan seniman Butet Kartaredjasa.(Foto: Priyo Wicaksono)

BERDASARKAN berbagai fenomena di atas, tak berlebihan kiranya apabila kita memang harus menggali, mengkaji serta merevitalisasi Semangat Nusantara.

Mengeja Nusantara, paling tidak harus berangkat dari pengertian terhadap kosakatanya terlebih dulu, yang berakar kata ”nusa” artinya pulau atau kesatuan kepulauan, dan ”antara” yang menunjukkan letak antara dua unsur.

Sehingga jika dipadukan, maka makna Nusantara adalah ”Kesatuan Kepulauan, yang terletak antara dua benua dan dua samudera”, yang tidak lain adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan letak geografis seperti itu, maka penghuni yang berada di dalam Nusantara itu, konsekuensinya harus memiliki Wawasan Nusantara, sekaligus Wawasan Bahari, atau lebih tepatnya Wawasan Nusantara Bahari.

Dalam upaya Revitalisasi Semangat Nusantara, maka konsekuensi lanjutannya adalah, bangsa Indonesia harus memiliki pemahaman tentang geopolitik dan geostrategis. Tujuannya menggugah wawasan, dalam usaha mengeksplorasi jatidiri bangsa, diderivasikan dari Wawasan Nusantara, diaktualisasikan dalam konsep Bhinneka Tunggal-Ika, dan ditempatkan dalam konteks percaturan global dan pergeseran geopolitik internasional.

Tentu kita harus mahfum, bahwasanya faktor geopolitik, amat ditentukan oleh perkembangan sistem informasi dan teknologi informasi, serta transaksi finansial internasional.

Bangsa Majemuk

Memang, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk. Masalahnya adalah, bagaimana mengaktualisasikan simbol Bhinneka Tunggal-Ika – yang biarpun berbeda, namun tetap satu itu – ke dalam konteks yang benar?

Bagaimana pula, agar kita bisa mengubah potential forces menjadi actual forces – kekuatan nyata yang mampu menjawab tantangan globalisasi.

Untuk itu, kewajiban nasional untuk memperkuat integrasi bangsa, melalui strategi nasional aktualisasi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, sekalipun satu, tidak boleh dilupakan bahwa sesungguhnya bangsa ini berbeda-beda dalam suatu kemajemukan.

Pengalaman mengajarkan, bahwa bukan semangat kemanunggalan atau ketunggalan (tunggal-ika), yang paling potensial untuk bisa melahirkan kesatuan dan persatuan yang kuat, melainkan pengakuan akan adanya keberagaman (bhinneka), dan kesediaan untuk menghormati kemajemukan bangsa Indonesia.

Penggerak Semangat

Jelas kiranya, bahwa dalam konteksnya hari ini, tema” Arkipelagis: Refleksi Kebudayaan” dapat menjadi motor penggerak semangat dan keterampilan bahari. Semangat dan keterampilan yang pernah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, perlu digali dan dikembangkan kembali di kalangan generasi muda, agar bangsa Indonesia mampu menjadi tuan di negeri mereka sendiri.

Diilhami oleh semangat arkipelagis itu, upaya membangun Indonesia Baru yang lebih maju, mandiri dan bermartabat, memerlukan strategi budaya yang menyiapkan generasi muda Indonesia, yang sanggup mengambil tanggung- jawab masa depan, berkeyakinan diri, dan memiliki wawasan kebaharian yang mendalam, serta didukung oleh keterampilan bahari yang memadai.

Dan jika kita berkehendak menggeser orientasi pembangunan menuju skala dunia, maka tidak lain kita harus mulai memperkuat basis pendidikan bidang kelautan. Oleh sebab itu, pendidikan Indonesia setidaknya harus berorientasikan pada tatanan Benua Maritim Indonesia.

Selain itu, perlu bagi kita untuk memperkuat fungsi pengawasan. Dengan berbagai potensi yang melingkupinya, kemaritiman akan menjadi salah satu solusi kunci, dalam berbagai permasalahan global di masa depan.

Pungkas kata, sejatinya revitalisasi semangat Nusantara itu tidak lain adalah Wawasan Nusantara Bahari, yang tampaknya perlu dibangkitkan kembali, guna mempercepat kebangkitan Indonesia.

Jika memang demikian, bukan tidak mungkin, pesan Ir Seokarno saat meresmikan Institut Angkatan Laut pada tahun 1953, dapat menjadi kenyataan ”…Oesahakanlah agar kita mendjadi bangsa pelaoet kembali. Ya , bangsa pelaoet, dalam arti kata Cakrawati Samoedra…”.

  • Gubernur DIY, Hamengku Buwono X. Pidato disampaikan dalam Diskusi Arkipelagis: Refleksi Kebudayaan, Mengiringi Purnatugas Hilmar Farid BA MA PhD (Dirjen Kebudayaan periode 2015-2024)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.