JOGJA, bisnisjogja.id – Sejumlah menteri masuk daftar resuffle. Ada sejumlah nama yang menonjol karena memiliki kinerja terburuk dan masuk dalam kategori tak terlihat bekerja.
Nama-nama tersebut terungkap dalam Evaluasi Kinerja Kabinet Merah Putih dan Program Ekonomi, Energi, Lingkungan Hidup serta Penegakan Hukum. Evaluasi merupakan hasil penelitian Center of Economic and Law Studies (Celios), Jakarta, Indonesia.
Para peneliti yang terlibat, Media Wahyudi Askar, Bhima Yudhistira Adhinegara, Galau D Muhammad, Bakhrul Fikri, Jaya Darmawan dan Muhamad Saleh. Mereka menamai penelitiannya ”Rapor 100 Hari Prabowo-Gibran”.
”Kami mencoba mengidentifikasi secara detil masing-masing menteri. Kami menggunakan berbagai indikator dengan metodologi ilmiah,” tandas Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar.
Lembaga Independen
Celios sebagai lembaga yang mengeluarkan hasil penelitian merupakan sebuah lembaga penelitian independen. Lembaga tersebut fokus pada kajian makro-ekonomi, keadilan fiskal, transisi energi, dan kebijakan publik.
Lembaga itu memiliki dedikasi untuk mendorong reformasi kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik, menciptakan ekonomi rendah karbon dan pelibatan aktif dari masyarakat terdampak pembangunan.
Pada penelitiannya, Celios mengungkapkan secara keseluruhan kinerja kabinet Prabowo-Gibran selama 100 hari pertama mengecewakan. Hal ini terungkap dari tujuh persen responden menjawab sangat buruk dan 42 persen mengisi buruk, sedangkan hanya 42 persen responden yang menjawab cukup dan delapan responden mengisi baik.
Hasil temuan survei membuktikan bahwa miskoordinasi, program yang tidak dirasakan masyarakat, komunikasi buruk dan kinerja individu menteri yang kurang profesional banyak terjadi di tubuh kabinet merah putih Prabowo-Gibran dalam 100 hari pertama.
Sebagian besar responden menyatakan agar ada pergantian menteri pada enam bulan pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. Ini terutama pada menteri yang memperoleh predikat kinerja buruk.






