Self Reward dan Jebakan Finansial

oleh -29 Dilihat
Lusiana Novita.(Foto: dok pribadi)

 

  • Gen Z menjadi katalisator utama dalam konsumsi berbasis pengalaman (experience economy).
  • Ada kontradiksi kondisi ekonomi dan perilaku konsumsi yang berpotensi berubah menjadi perilaku konsumtif serta impulsive.
  • Saat keputusan ekonomi kurang rasional, kebiasaan self-reward berpotensi menimbulkan masalah keuangan.

 

SELF-REWARD kini bukan lagi sekadar tren, melainkan gaya hidup yang melekat pada Gen Z. Mulai dari nongkrong di kafe, belanja online, hingga healing singkat dengan dalih menjaga mental health. Singkatnya, ini adalah aktivitas membeli sesuatu sebagai hadiah atau apresiasi untuk diri sendiri.

Kebiasaan yang tampak sederhana tersebut ternyata dapat memiliki dampak besar terhadap perekonomian. ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 dari UOB menyebutkan Gen Z bahkan menjadi katalisator utama dalam konsumsi berbasis pengalaman (experience economy). Kontribusi mereka lebih dari 50 persen sehingga menjadi bagian dari dinamika ekonomi yang lebih luas.

Hal itu melalui alokasi pendapatan Gen Z untuk kebutuhan non-esensial seperti makanan, fesyen, hiburan, dan pengalaman. Maka tidak heran jika kafe-kafe estetik dan tempat wisata viral selalu ramai pengunjung. Bahkan, tiket konser mulai dari musisi lokal seperti Hindia hingga artis global seperti BTS yang dijual dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah pun seringkali habis terjual dalam waktu singkat.

Fenomena ini juga terlihat dari meningkatnya minat terhadap barang-barang kecil seperti keychain atau strap handphone yang dianggap estetik dan lucu. Secara fungsional mungkin tidak terlalu penting, namun tetap memiliki nilai emosional bagi Gen Z.

Sederhana, tidak selalu mahal, tetapi jika dilakukan secara masif, kebiasaan ini mampu mempercepat perputaran uang, sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM dan bisnis digital.

Jebakan Finansial

Di sisi lain, budaya self-reward juga memiliki dampak negatif. Di tengah kondisi global yang tidak menentu, seperti tekanan inflasi dan kenaikan harga berbagai kebutuhan, daya beli masyarakat sebenarnya sedang menghadapi tantangan. Situasi ini seharusnya mendorong masyarakat untuk lebih menahan konsumsi.

Menariknya, di tengah tekanan tersebut, Gen Z justru tetap aktif melakukan self-reward. Fenomena itu menunjukkan adanya kontradiksi antara kondisi ekonomi dan perilaku konsumsi yang berpotensi berubah menjadi perilaku konsumtif dan impulsive.

Ketika individu bertindak irasional, maka konsumsi tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada keinginan sesaat.

Dalam perspektif behavioral economics, kebiasaan self-reward pada Gen Z dipengaruhi oleh beberapa kecenderungan perilaku. Salah satunya, present bias, yaitu kecenderungan untuk lebih mengutamakan kesenangan sekarang juga dibandingkan manfaat jangka panjang. Terlihat dari kebiasaan membeli kopi, belanja, atau hiburan sebagai bentuk kebahagiaan instan.

Selain itu, terdapat pula emotional spending, di mana keputusan konsumsi dipengaruhi oleh kondisi emosional, seperti stres atau lelah. Sementara itu, konsep mental accounting membuat pengeluaran untuk self-reward terasa ”wajar” karena dianggap sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Pengelolaan Self-Reward

Ditambah lagi, kemudahan layanan seperti paylater memperkuat perilaku mereka karena memungkinkan konsumsi tanpa harus membayar langsung. Tanpa disadari, ”hadiah kecil” yang awalnya tampak sepele dapat berkembang menjadi jebakan finansial jangka panjang.

Ketika keputusan ekonomi menjadi kurang rasional maka kebiasaan self-reward berpotensi menimbulkan masalah keuangan di masa depan.

Lalu, apakah self-reward harus sepenuhnya dihindari? Tidak juga. Di tengah rutinitas yang padat dan tekanan yang semakin tinggi, self-reward justru bisa menjadi cara sederhana bagi Gen Z untuk menjaga keseimbangan diri. Menikmati secangkir matcha, membeli barang yang disukai, atau sekadar healing singkat bukanlah hal yang salah.

Masalahnya bukan pada kebiasaannya, melainkan pada pengelolaannya. Self-reward tetap dapat menjadi hal positif selama dilakukan secara sadar dan tidak berlebihan. Di sinilah pentingnya literasi keuangan, terutama bagi Gen Z yang hidup di era serba instan dan digital. Gen Z perlu memahami batas antara kebutuhan dan keinginan sebagai kunci agar konsumsi tetap terkendali.

Bagi Gen Z, pilihan ada di tangan mereka. Self-reward bisa menjadi bentuk apresiasi diri yang sehat dan produktif, atau justru menjadi kebiasaan kecil yang tanpa disadari menggerus kondisi keuangan di masa depan. Di tengah kemudahan akses dan godaan konsumsi, Gen Z dihadapkan pada pilihan menikmati saat ini atau menjaga masa depan.

  • Penulis, Lusiana Novita, Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.