UMKM di Bulan Ramadan, Momentum Naik Kelas

oleh -278 Dilihat
DIALOG: Ketua Dewan Pakar ISEI Cabang Yogyakarta, Prof Edy Suandi Hamid menjadi narasumber dalam dialog di TVRI Yogyakarta.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Bulan Ramadhan memicu geliat ekonomi yang signifikan di Yogyakarta. Ketua Dewan Pakar ISEI Cabang Yogyakarta, Prof Edy Suandi Hamid, menyebut momen ini sangat krusial bagi UMKM. Ia menyampaikan hal tersebut dalam acara “Jogja Jelang Siang” di TVRI Yogyakarta, pekan lalu.

Edy mendorong UMKM memanfaatkan peningkatan konsumsi untuk naik kelas. Pelaku usaha mikro harus berani bergeser ke skala kecil, dan yang kecil menjadi menengah. Ramadhan juga menjadi inkubator alami bagi munculnya wirausahawan baru. Banyak warga mulai mencoba peruntungan dengan menjual takjil, pakaian, hingga paket hampers lebaran.

Peningkatan permintaan barang dan jasa merupakan siklus tahunan yang pasti terjadi. Masyarakat cenderung lebih konsumtif karena memiliki dukungan dana tambahan.

”Penggunaan tabungan pribadi, penerimaan THR, hingga penyaluran zakat dan infaq menjadi motor penggerak utama. Faktor-faktor ini secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ungkap Edy.

Inflasi Cukup Tinggi

Namun, lonjakan permintaan juga membawa risiko inflasi yang cukup tinggi. Edy menjelaskan fenomena demand pull inflation atau kenaikan harga akibat permintaan yang melampaui pasokan. Kondisi tersebut sering kali diperparah oleh faktor psikologis pasar. Pedagang sengaja menaikkan harga karena konsumen biasanya lebih toleran saat menjelang Idulfitri.

”Untuk menjaga momentum positif, kelancaran arus logistik menjadi kunci utama. Pemerintah dan otoritas terkait harus memastikan distribusi barang dan jasa tidak terhambat,” tandas Edy yang juga Rektor UWM Yogyakarta.

Langkah ini penting untuk mencegah aksi spekulan atau penimbunan barang yang merugikan. Stabilitas pasokan akan menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Baca Perilaku Konsumen

Edy juga mengingatkan pelaku ekonomi untuk jeli membaca perilaku konsumen tahunan. Pengusaha perlu memproduksi barang yang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Perencanaan produksi yang matang, seperti pada bisnis takjil, sangat penting. Tujuannya, menghindari kerugian akibat stok yang berlebih.

Meski demikian, ia mencatat adanya penurunan daya beli masyarakat tahun ini. Situasi makroekonomi yang kurang menggembirakan memberikan tekanan pada sektor konsumsi. Akan tetapi, ia optimistis aktivitas ekonomi tetap akan lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan biasa. Penggunaan dana cadangan masyarakat menjadi penyelamat aktivitas pasar.

Kolaborasi literasi ekonomi merupakan hasil kerja sama rutin antara ISEI Yogyakarta dan TVRI. Sekretaris ISEI Yogyakarta, Y Sri Susilo, menyatakan program ini hadir setiap hari Kamis. Kerja sama yang terjalin sejak 2026 bertujuan terus memberikan edukasi ekonomi bagi publik.

No More Posts Available.

No more pages to load.