”Edukasi CBP (Cinta, Bangga, dan Paham) Rupiah, tak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus menjangkau warung, pasar tradisional, bahkan gang-gang kecil di perkampungan. Mencintai rupiah bukan sekadar hafal karakteristik uang, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap uang harus dijaga dan dirawat layaknya sesuatu yang sangat berharga bagi kita”.
DI DUSUN Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, berdiri sebuah warung kecil milik Subandi. Usianya kurang lebih 60 tahun, namun semangatnya berjualan kleci (pakan ternak dari kulit kedelai) tak pernah luntur.
Setiap pagi, warungnya menjadi titik kumpul para ibu dan bapak lansia yang masih aktif bekerja. Mereka membeli, menimbang, dan menghitung uang lembar demi lembar, tanpa tahu bahwa di balik transaksi sederhana itu, ada ancaman yang mengintai, uang palsu.
Sebagai Duta Guru CBP Rupiah, saya mendekati warung Subandi bukan hanya sebagai tempat jual beli, tetapi sebagai ruang belajar.
Di sana, saya mengajak para lansia mengenali metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) untuk membedakan uang asli dan palsu. Respons mereka mengejutkan saya.
”Baru tahu, Pak, ternyata ada tanda transparannya,” ujar salah satu ibu penuh semangat.
Warung kecil seperti milik Subandi adalah nadi ekonomi mikro pedesaan. Namun di balik perputaran uang yang terjadi, para pelaku UMKM yang sudah sepuh justru menjadi pihak paling rentan.
Minim literasi keuangan, tidak familiar dengan ciri-ciri uang asli, dan enggan bertanya karena merasa sungkan. Akibatnya, mereka bisa dengan mudah menjadi korban peredaran uang palsu.
Perlu Edukasi
Ini bukan masalah sepele. Jika uang palsu tersebar di warung kecil, bukan hanya ekonomi pribadi yang terganggu, tapi juga sistem kepercayaan masyarakat terhadap rupiah bisa tergerus.
Ketika lansia yang jujur harus menanggung kerugian karena ketidaktahuan, kita sedang membiarkan ketidakadilan tumbuh di tempat yang paling sederhana.
Itulah mengapa edukasi CBP (Cinta, Bangga, dan Paham) Rupiah, tak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus menjangkau warung, pasar tradisional, bahkan gang-gang kecil di perkampungan.
Mencintai rupiah bukan sekadar hafal karakteristik uang, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap uang harus dijaga dan dirawat layaknya sesuatu yang sangat berharga bagi kita.
Bangga terhadap rupiah berarti tidak mudah tergoda menerima mata uang asing. Kita perlu menyadarkan masyarakat bahwa hanya dengan menggunakan rupiah, kita sedang menjaga stabilitas moneter dan identitas bangsa Indonesia.
Apalagi pada era wisata internasional seperti di Bali, penggunaan mata uang asing kerap dianggap hal biasa. Padahal, UU No 7 Tahun 2011 jelas menegaskan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah.
Sementara itu, paham rupiah berarti bijak mengelola uang. Para lansia yang hidup dari usaha kecil perlu diedukasi agar memahami pentingnya berhemat, menabung, dan mengenali risiko transaksi. Bukan untuk membuat mereka takut, tetapi untuk memperkuat rasa percaya diri dan mandiri secara ekonomi.
Pendidikan Karakter
Sebagai guru, saya merasa tanggung jawab itu melebar dari papan tulis ke warung sederhana. Dari kurikulum ke kehidupan nyata. Karena pendidikan karakter seharusnya tidak berhenti di bangku sekolah, tetapi juga menyentuh ruang-ruang tempat masyarakat menggantungkan harapan.
Warung Subandi telah menjadi saksi bahwa edukasi rupiah bisa dimulai dari mana saja. Kita tidak bisa membiarkan yang tua terus tertinggal. Justru mereka yang telah menjaga negeri ini sejak dulu, layak mendapatkan perlindungan dan pengetahuan.
Mari kita jaga warung kecil seperti milik Subandi. Bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari ancaman keuangan yang sering luput dari perhatian. Karena menjaga rupiah berarti menjaga kehidupan. Dan kehidupan itu, kadang berawal dari warung kecil di sudut dusun.
- Penulis, Muhamad Rafif Naufal SPd, Duta Guru CBP Rupiah SMA Negeri 1 Bantul, Yogyakarta





