JOGJA, bisnisjogja.id – Indonesia masih tergantung negara lain ada penyediaan bahan baku obat. Sebagian besar, 80 persen bahan baku obat masih impor.
Hal itu terungkap pada Indonesia Biopharmaceutical Summit (IBS) 2025 bertajuk ”Shaping the Future of Biopharma in Indonesia” di Fakultas Farmasi UGM, belum lama ini.
Selain itu, terungkap pula Indonesia kini memiliki lebih dari 2.043 industri farmasi, sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan wilayah luar Jawa sangat sedikit.
”Usaha pemerintah dari belanja kesehatan nasional mencapai sekitar Rp 200 triliun per tahun untuk sektor farmasi termasuk pengadaan obat,” ujar Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, Dr Jeffri Ardiyanto.
Ia menambahkan, kebutuhan obat dan alat kesehatan perlu segera diatasi seiring kebutuhan farmasi nasional berkembang karena perubahan pola penyakit.
Tidak Menular
Jeffri menjelskan saat ini terjadi pergeseran penyakit dominan dari menular ke tidak menular seperti stroke, jantung, dan diabetes. Kondisi tersebut terlihat pada beberapa tahun terakhir.
General Manager TechOps PT Etana Biotechnologies Indonesia, Miles Shi PhD mengatakan ada empat pilar utama yang saling berkaitan yakni regulasi, rantai pasok (supply chain), pengembangan talenta, dan efisiensi biaya.
”Keempat aspek tidak dapat berjalan terpisah dan harus dikelola melalui kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah,” kata Miles.
Ia menilai pada lingkungan akademisi masih terbatas lingkup riset dan prototipe, sehingga perlu menarik industri dan pemerintah seperti BPOM agar hasilnya dapat diproduksi dan dipasarkan secara legal.
Dekan Farmasi UGM, Prof Satibi menambahkan kegiatan IBS 2025 diikuti 286 peserta secara daring maupun luring, yang terdiri atas civitas academica, peneliti, pelaku industri biofarmasi, serta perwakilan lembaga pemerintah seperti BPOM.





