JOGJA, bisnisjogja.id – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) kembali mempertegas dominasinya di kancah nasional. Dua tim delegasi FEB UGM sukses menyabet gelar Juara 1 dan Juara 2, sekaligus penghargaan Best Speaker dalam ajang Management Competition 2026: National Business Case Competition yang diselenggarakan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).
Tim Kacamata Baru Aryo yang beranggotakan Muhammad Fatih Putra Nugraha, Hilal Afif Fauzan, dan Ahmad Fahrel Aldito berhasil mengamankan podium pertama. Prestasi ini semakin lengkap dengan dinobatkannya Muhammad Fatih Putra Nugraha sebagai Best Speaker. Sementara itu, podium kedua ditempati oleh Tim ‘Apa Ya’ yang digawangi oleh Hanwinartha Haryono, Amy Koh Jia Chi, dan Ibnu Khafi.
Kompetisi mengangkat isu strategis terkait green energy. Peserta ditantang mengolah minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) menjadi bahan bakar avtur. Mereka diminta merancang strategi rantai pasok dari masyarakat menuju Greenera, sebuah start-up yang menjadi mitra kasus dalam perlombaan tersebut.
Inovasi dan Konvensional
Dalam mencari solusi, kedua tim menempuh jalur yang berbeda namun tetap komprehensif. Tim Kacamata Baru Aryo menawarkan pendekatan konvensional yang masif melalui sistem door-to-door untuk memastikan pengumpulan bahan baku langsung dari sumbernya.
Di sisi lain, Tim Apa Ya mengusulkan inovasi digital berupa aplikasi terintegrasi untuk menghubungkan titik-titik pengumpulan UCO agar lebih efisien.
Perjalanan menuju kemenangan tidak terlepas dari tantangan teknis yang krusial. Salah satu momen paling menantang bagi Tim Kacamata Baru Aryo adalah perubahan mendadak pada format presentasi di babak final yang mengharuskan mereka menggunakan bahasa asing secara spontan.
”Kami baru tahu jika sesi pitching menggunakan bahasa Inggris sehingga kita harus mempersiapkan diri hanya dalam 30 menit sebelumnya,” terang Ahmad Fahrel Aldito saat menjelaskan situasi di balik layar kompetisi.
Rumuskan Solusi Strategis
Tantangan berbeda dihadapi oleh Tim Apa Ya. Kesibukan akademik yang padat memaksa mereka untuk melakukan manajemen waktu yang sangat ketat dalam menyusun proposal bisnis yang solid. Persiapan yang singkat menuntut efektivitas kerja tim dalam menganalisis data dan merumuskan solusi strategis.
”Pada saat itu, karena padatnya aktivitas kita, penyusunan proposal dilakukan dalam waktu yang sangat singkat,” jelas Hanwinartha Haryono mengenai kendala yang mereka hadapi selama proses kompetisi.
Kunci keberhasilan kedua tim terletak pada pemanfaatan materi kuliah dan dukungan organisasi kampus. Hanwinartha menambahkan bahwa peran Gadjah Mada Business Case Club (GMBCC) sangat besar dalam mengasah ketajaman analisis mereka melalui diskusi internal dan referensi eksternal yang kuat.
Pencapaian tersebut tidak hanya menjadi catatan prestasi akademis, tetapi juga menjadi pemantik inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani berinovasi. Pengalaman dalam memecahkan kasus bisnis nyata ini menjadi refleksi penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan industri hijau di masa depan.





