Bencana di Sumatra Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem

oleh -67 Dilihat
Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jazaul Ikhsan PhD.(Foto: dok UMY)

 

  • Banjir yang terjadi merupakan hasil kombinasi antara cuaca ekstrem dan campur tangan manusia melalui tata ruang yang tidak adaptif.
  • Kerusakan lingkungan menjadi variabel paling mengkhawatirkan.
  • Konversi hutan menjadi permukiman dan perkebunan menyebabkan hilangnya area resapan air alami.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Ratusan orang menjadi korban meninggal dalam banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Sumatra. Selain korban jiwa dan hilang, ribuan orang mengungsi ke tempat-tempat yang aman.

”Di balik tingginya curah hujan, rangkaian bencana hidrometeorologi ini bukan semata-mata fenomena alam. Banjir yang terjadi merupakan hasil kombinasi antara cuaca ekstrem dan campur tangan manusia melalui tata ruang yang tidak adaptif,” papar Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jazaul Ikhsan PhD, Selasa (2/12/2025).

Menurutnya curah hujan tinggi memang menjadi pemicu awal, tetapi kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), sistem drainase yang tidak memadai, serta alih fungsi lahan memperparah dampaknya.

Ia menyebut beberapa indikator teknis menunjukkan bahwa infrastruktur pengendali banjir tidak lagi relevan dengan kondisi iklim saat ini.

Banyak sistem drainase memiliki kapasitas aliran yang jauh lebih kecil dibandingkan curah hujan aktual. Sedimentasi, penumpukan sampah, serta desain infrastruktur yang masih mengacu pada data historis membuat air meluap dan menggenangi permukiman.

Kerusakan Lingkungan

Selain faktor teknis, kerusakan lingkungan menjadi variabel paling mengkhawatirkan. Konversi hutan menjadi permukiman dan perkebunan menyebabkan hilangnya area resapan air alami.

”Penebangan hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Akibatnya aliran permukaan meningkat cepat menuju hilir dan memicu banjir serta longsor,” jelas Ikhsan.

Jika pola itu terus berulang setiap musim hujan, dampaknya bisa semakin serius. Secara ekologis, banjir berulang dapat merusak ekosistem, menurunkan kualitas tanah, serta mencemari air sungai maupun tanah akibat limpasan limbah dan bahan kimia.

Ia mengatakan, dari sisi sosial, bencana yang terjadi terus-menerus dapat menimbulkan migrasi penduduk, trauma psikologis, hingga ketegangan sosial akibat perebutan sumber daya pascabencana. Secara ekonomi, kerugian bakal meningkat tajam karena kerusakan infrastruktur dan kebutuhan biaya pemulihan yang semakin besar.

Ikhsan menegaskan, rentetan banjir di Sumatera merupakan sinyal alarm keras perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tata ruang, sekaligus adaptasi desain infrastruktur agar selaras dengan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.

No More Posts Available.

No more pages to load.