Cuaca Ekstrem Berdampak Ekonomi, Pemerintah Perlu Siapkan Asuransi Pertanian

oleh -397 Dilihat
BANJIR BANTUL: Hujan deras yang mengguyur wilayah DIY mengakibatkan sebagian daerah Bantul banjir.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Awal tahun 2025 ini terjadi bencana akibat cuaca, hujan dan angin. Bencana tersebut tentu dapat menimbulkan dampak terhadap perekonomian.

Menurut Ekonom FEB UGM, Gumilang AS kejadian cuaca berkepanjangan, terutama ekstrem, dapat berpengaruh pada perekonomian melalui beberapa mekanisme.

Pertama, kerusakan infrastruktur yang nantinya berpengaruh terhadap kelancaran rantai pasokan dan biaya logistik.

Kedua, turunnya output sektor pertanian karena dampak cuaca terhadap komoditas dan juga produktivitas petani. Turunnya output sektor pertanian dapat mempengaruhi harga produk-produk pertanian di pasar dan juga kesejahteraan petani.

Ketiga, sektor UMKM, sektor informal, serta layanan aplikasi daring terdampak karena mobilitas individu yang terbatas dalam cuaca ekstrim.

Asuransi Pertanian

”Dalam hal ini, pemerintah dapat mengantisipasi dengan menyiapkan asuransi pertanian dan juga kebijakan transfer seperti bantuan langsung tunai,” jelas Gumilang yang juga Wakil Ketua ISEI Cabang Yogyakarta.

Menurutnya, kebijakan tersebu dapat melindungi penghidupan petani dan memberikan modal untuk musim tani berikutnya.

”Keadaan cuaca ekstrim jangka pendek juga dapat menyebabkan gangguan rantai pasokan walau sejenak, selain korban jiwa dan kerugian materiil,” ungkap Gumilang.

Ia menyatakan pemerintah dapat menyiapkan program bantuan bagi warga terdampak seperti pengungsian dan bantuan bahan pokok, di saat bersamaan identifikasi rantai pasokan alternatif.

Dampak cuaca ekstrim yang durasinya singkat belum akan berpengaruh terhadap perekonomian DIY, dan dapat dimitigasi dengan kesiapan program bantuan kepada korban terdampak.

Masa Panen

Sementara itu Guru Besar FEB UGM, Catur Sugiyanto menyatakan sekarang masa panen, dengan hujan deras dan angin kencang, kemungkinan besar bisa merusak padi.

”Jika petani terpaksa memanen lebih awal maka kemungkinan penghasilan mereka menurun,” ungkap Catur yang juga Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta.

Menurut Catur, hal tersebut menjadikan produksi tidak bisa optimal dan proses pengeringan padi hasilnya juga tidak baik.

”Dari sisi distribusi barang, mungkin bisa menghambat dan perlu antisipasi agar kebutuhan pokok untuk Lebaran bisa diprioritaskan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.