JOGJA, bisnisjogja.id – Ketidakpastian ekonomi global dengan segala dinamikanya membuat perbankan menghadapi tantangan berat. Dunia perbankan mengalami disrupsi digital, tekanan likuiditas, dan risiko kredit.
Hal itu makin kuat dengan keluarnya kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menekan penyaluran kredit perbankan di Indonesia.
Bank Indonesia pernah menyampaikan, dinamika kebijakan tarif resiprokal AS bersamaan dengan retaliasi Tiongkok meningkatkan ketidakpastian. Hal itu memicu adanya peningkatan fragmentasi ekonomi global dan penurunan volume perdagangan dunia.
”Dampak utama ketidakpastian global terhadap ekonomi Indonesia saat ini karena geopolitik, proteksionisme, dan volatilitas pasar keuangan yang melemahkan rupiah, mengancam ekspor, dan menekan daya beli masyarakat,” tandas Ekonom FEB UGM Muhammad Edhie Purnawan PhD.
Adapun penguatan dolar AS akibat kebijakan The Fed, menurut Edhie meningkatkan beban utang luar negeri dan harga impor, meskipun BI-Rate 5,75 persen membantu stabilitas keuangan.
Tantangan Berat
Edhie menilai tantangan yang paling berat justru sektor perbankan, dengan aset Rp 12.000 triliun, tengah menghadapi disrupsi digital, tekanan likuiditas, dan risiko kredit.
Karena itu, ia mengatakan bank harus terus berinovasi guna memperkuat likuiditas, dan mengelola risiko secara cerdas untuk mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi menuju visi 2045.
”Fintech menggerus pangsa pasar karena konsumen milenial yang merupakan 54 persen populasi produktif, menginginkan layanan cepat dan murah,” ujar Edhie.
Ia menggagas, bank perlu investasi besar pada teknologi seperti open banking dan AI, sambil melindungi diri dari ancaman siber.
Tekanan likuiditas muncul akibat aliran modal keluar karena suku bunga global tinggi dan konflik energi, yang melemahkan rupiah dan marjin keuntungan.
Jaga Stabilitas
Menurut Edhie langkah nyata yang perlu dilakukan Bank Indonesia dan pemerintah ke depan yakni menjaga stabilitas dan mendorong kesejahteraan melalui koordinasi moneter fiskal, ketahanan pangan, digitalisasi UMKM, dan diplomasi ekonomi.
Langkah tersebut akan memperkuat kedaulatan ekonomi. Bank Indonesia perlu mempertahankan BI-Rate 5,75 persen dan operasi pasar terbuka untuk stabilisasi rupiah, serta menjaga rasio nilai kredit dan pembiayaan.
”Ekonomi dan perbankan menjadi pilar ketangguhan, mendorong kesejahteraan dengan kekuatan lokal dan kerja keras, seperti petani yang inovatif dan ilmuwan yang meningkatkan produktivitas. Semuanya bertumpu pada stabilitas ekonomi, perbankan inklusif, dan keberlanjutan,” paparnya.
Pemerintah dan BI perlu menjaga stabilitas ekonomi, menjaga harga tetap terkendali dan pertumbuhan stabil, didukung kebijakan moneter bijak dan anggaran negara yang mendukung UMKM serta energi terjangkau.





