JOGJA, bisnisjogja.id – Banyak negara harus berpikir keras menghadapi kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump. Lantas langkah apa yang seharusnya diambil oleh Pemerintah Indonesia menghadapi kebijakan AS tersebut?
Ekonom FEB UGM, Muhammad Edhie Purnawan PhD menyebutkan respons optimal Indonesia yang dapat dilakukan yakni menerapkan strategi campuran antara diplomasi ekonomi, diversifikasi, dan dukungan domestik.
”Indonesia dapat memilih jalur diplomatik, menghindari retaliasi, dengan revitalisasi Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) untuk membahas hambatan perdagangan,” tandas Edhie.
Deregulasi Non-Tariff Measures (NTMs), seperti relaksasi persyaratan kandungan lokal untuk perusahaan ICT AS (GE, Apple, Oracle, Microsoft) berpotensi untuk menawarkan insentif fiskal seperti pemotongan bea masuk, pajak penghasilan, dan PPN, menjadi insentif bagi perusahaan-perusahaan AS.
Pasar Ekspor
Upaya lain adalah dengan diversifikasi pasar ekspor ke ASEAN, Eropa, Timur Tengah, dan bergabung dalam CPTPP atau BRICS, mengurangi ketergantungan pada AS, sesuai strategi exit option dalam game theory.
Kolaborasi dengan Malaysia sebagai ketua ASEAN 2025 untuk respons kolektif terhadap tantangan perdagangan global menjadi harapan besar dalam pendekatan multilateral.
Juga dukungan ke industri terdampak melalui insentif pajak dan pelatihan ulang, serta stimulus fiskal untuk dorong konsumsi dalam negeri, stabilkan ekonomi domestik.
Dengan pasar global unstable, Edhie mengatakan pemerintah harus berkoordinasi dengan negara-negara lain, seperti dalam ASEAN, untuk respons kolektif dan mencari alternatif kerja sama ekonomi, mengingat penurunan indeks pasar global seperti FTSE 100 dan Nikkei 225.
Negara-negara dunia sebaiknya fokus pada peningkatan perdagangan di antara mereka, terutama di sektor layanan, yang relevan bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor barang ke AS.
Sementara Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperkuat sektor digital dan layanan yang kurang terkena dampak tarif AS dan mencari perjanjian dagang baru seperti CPTPP untuk memperluas akses pasar.
Permain Berulang
”Dari perspektif game, hal ini adalah permainan berulang (repeated game). Indonesia perlu memilih strategi campuran antara kooperasi (diplomasi ekonomi) dan kompetisi (diversifikasi),” saran Edhie.
Negosiasi dapat membantu mencapai ekuilibrium yang lebih menguntungkan, sementara diversifikasi adalah strategi minimax untuk mengurangi risiko jika negosiasi menghadapi jalan buntu.
Demikian pula, jika AS menggunakan tarif sebagai langkah awal Tariff Chaos untuk melakukan leverage negosiasi, diikuti oleh tarif resiprokal dan ”Mar-a-Lago Accord” untuk penyesuaian mata uang.
Edhie menyarankan pemerintah Indonesia untuk mempersiapkan diri secermat mungkin, terutama melalui Bank Indonesia.
Langkah tersebut untuk mengendalikan volatilitas mata uang dan mencari cara menyelaraskan kepentingan bersama Indonesia-AS, seperti penyediaan bahan baku atau investasi, dan dalam rangka konsesi tarif serta menyelamatkan porsi perekonomian yang lebih besar.





