- Perlu pembentukan badan khusus yang fokus pada pemulihan kehidupan dan penghidupan setelah bencana.
- Perlu kepemimpinan yang kuat serta sumber daya manusia yang cekatan, taktis, dan berpengalaman agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan cepat, tepat, dan berkelanjutan.
JOGJA, bisnisjogja.id – ”Pendekatan partisipatif penting agar proses pemulihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kondisi sosial, serta tradisi budaya setempat,” saran pakar kebencanaan UGM, Prof Dwikorita Karnawati.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari relawan, organisasi nonpemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat lokal yang tidak terdampak langsung.
Penting pula pembentukan badan khusus yang fokus pada pemulihan kehidupan dan penghidupan di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Model kelembagaan dapat mencontoh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh pascatsunami 2004.
”Perlu kepemimpinan yang kuat serta sumber daya manusia yang cekatan, taktis, dan berpengalaman agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan cepat, tepat, dan berkelanjutan,” tandasnya.
Potensi Bencana
Potensi terjadinya longsor dan banjir bandang susulan di sejumlah wilayah Sumatera menurut Dwikrita masih sangat tinggi, terutama selama musim hujan.
Karena itu, ia mengusulkan salah satu langkah mitigasi paling mendesak yang harus segera dilakukan yakni upaya pengurangan risiko banjir bandang susulan.
”Mitigasi yang perlu segera dilakukan adalah inspeksi menyeluruh di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS), terutama untuk mengecek sisa endapan longsor, material rombakan, serta kayu-kayu yang masih tertahan di lereng dan alur sungai pada elevasi tinggi,” paparnya.
Ia menjelaskan, endapan material berpotensi menyumbat aliran sungai saat atau setelah hujan lebat. Jika sumbatan alami jebol, dapat memicu banjir bandang yang mengalir ke wilayah hilir dan dataran rendah.
”Risikonya bukan hanya menambah korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur yang sedang dibangun maupun yang sudah ada,” tegasnya.
Selain inspeksi, Dwikorita menekankan pentingnya langkah mitigasi cepat dengan mengalirkan atau menyudet sumbatan sedimen di hulu sungai ke arah hilir secara terkontrol. Upaya itu bertujuan mencegah akumulasi material yang berpotensi berkembang menjadi banjir bandang.
Bangun Dam
Pada jangka menengah, ia menyarankan pembangunan check dam secara berjenjang dari hulu hingga kaki gunung. Struktur ini berfungsi mengendalikan kecepatan serta volume sedimen yang mengalir ke hilir, sehingga daya rusak banjir bandang dapat diminimalkan.
”Dengan pengendalian, aliran sedimen bisa dikelola agar tidak menimbulkan dampak destruktif bagi wilayah di bawahnya,” jelas Dwikorita.
Di sisi lain, pembersihan sedimen, lumpur, gelondongan kayu, hingga bangkai hewan di lahan dan sarana prasarana kehidupan masyarakat juga perlu segera dilakukan.
Infrastruktur seperti jalan, saluran irigasi, dan rumah warga yang masih memungkinkan harus difungsikan kembali, setidaknya sebagai hunian dan fasilitas sementara, sambil menunggu pembangunan hunian tetap.
Memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, Dwikorita mengatakan perlu evaluasi menyeluruh serta pemetaan ulang zona bahaya dan tingkat kerusakan lingkungan.
Mekanisme dan penyebab bencana harus dikaji melalui investigasi lapangan yang kemudian disimulasikan dengan pemodelan fisika-matematis berbasis data empiris.







