Fenomena rojali dan rohana menunjukkan bahwa konsumsi dan eksistensi tidak hanya tentang membeli barang, tetapi juga menunjukkan diri di depan orang lain. Beberapa orang mengunjungi pusat perbelanjaan untuk menunjukkan status sosial atau merasa bagian dari kelompok tertentu.
ROMBONGAN jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana) di pusat perbelanjaan akhir-akhir ini, ramai menjadi perbincangan. Kebutuhan sosial, aktualisasi, hingga pencitraan diri menjadi faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut.
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi fenomena rojali dan rohana. Pertama, kebutuhan sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan pusat perbelanjaan dapat menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhannya.
Kedua, aktualisasi diri, pada beberapa orang mungkin mengunjungi pusat perbelanjaan untuk menunjukkan status sosial atau untuk merasa bagian dari kelompok tertentu.
Ketiga, pencitraan diri, sebagian orang mereka berpura-pura tertarik membeli suatu barang demi menciptakan kesan positif di mata orang lain. Mereka ingin mempunyai kesan positif dan merasa paling besok lagi orangnya sudah lupa atau tidak ketemu.
Kadang-kadang, orang ingin memperoleh kesan positif dari orang lain, bahwa seseorang itu memiliki eksistensi untuk berbelanja meski sekadar melihat dan bertanya.
Di sisi lain ada kalanya karena memang kemampuan ekonomi sedang terbatas, maka perlu saving money atau ingin membandingkan harga di beberapa tempat. Terkadang pula ujungnya tidak jadi membeli, karena kemudian menyeleksi dan barang tersebut tidak penting atau tidak diperlukan.
Daya Beli
Daya beli seseorang akan menurun ketika melakukan berbagai pertimbangan, termasuk saving money. Ini tidak hanya berkesan negatif tapi juga positif. Pasalnya, saving money justru membuat seseorang lebih berhemat.
Di samping itu, rojali dan rohana bisa menjadi hiburan bagi mereka yang penat di rumah. Mereka bisa melakukan kontak sosial dan komunikasi bertemu orang lain dan menanyakan sesuatu di mall. Ini menjadi satu healing tertentu agar tetap merasa ada kontak sosial dengan orang lain.
Tren rojali dan rohana memberikan beberapa pelajaran penting bagi masyarakat, khususnya terkait kematangan dalam bersosialisasi. Matang bukan hanya soal perkembangan dan kepribadian orang tapi matang dan dewasa dalam bersosialisasi juga penting.
Beberapa hal yang bisa diambil sebagai manfaat atau pelajaran tren rohana dan rojali, pertama tentang konsumsi dan eksistensi. Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi dan eksistensi tidak hanya tentang membeli barang, tetapi juga menunjukkan diri di depan orang lain.
Kedua, tentang citra sosial. Citra sosial tidak hanya terbentuk dari apa yang dimiliki, tetapi juga bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan menunjukkan diri di media sosial.
Ketiga, tentang empati dan pemahaman. Fenomena ini menunjukkan bahwa seseorang perlu lebih empati dan memahami makna sosial di balik perilaku orang lain, bukan hanya melihat dari sisi ejekan atau sindiran.
Lebih Bijak
Sebaiknya semua pihak melihat secara lebih bijak menanggapi fenomena tersebut. Perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan motivasi yang berbeda-beda. Perlu pula lebih empati dan memahami satu sama lain.
Fenomena serupa di masa depan pasti akan muncul lagi, bisa dalam bentuk baru. Ibarat virus, setelah ada penawarnya seperti vaksin, akan bermetamorfosa, muncul lagi varian lainnya.
Perilaku manusia juga demikian, berkembang sesuai zaman, terutama dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku. Tidak perlu berlebihan, cukup memantau dan memahami perubahan-perubahan agar dapat beradaptasi dan berkembang secara harmoni sehingga mental juga tetap sehat.
- Penulis, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, Dosen Psikologi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta





